Shalat Istisqa Digelar, Dinas Kehutanan Sumsel Ikhtiar Hadapi Kemarau Panjang dan Cegah Karhutla

Berita Utama39 Dilihat
banner1080x1080

Palembang sumselpost. Co. Id– Menghadapi ancaman kemarau panjang sekaligus meningkatnya kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan menggelar Shalat Istisqa di lapangan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Senin (07/09).

Kegiatan tersebut diikuti para pegawai di lingkungan Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel dengan mengenakan pakaian muslim dan muslimah. Shalat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar dan doa bersama agar Allah SWT menurunkan hujan di wilayah Sumatera Selatan, di tengah kondisi musim kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung.

Kabid Perlindungan dan KSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel, Silvan Adri Rahmana, S.Hut., M.Si., mengatakan pelaksanaan Shalat Istisqa merupakan salah satu upaya spiritual yang dilakukan jajaran Dinas Kehutanan untuk memohon turunnya hujan.

“Kita tahu dari prediksi BMKG bahwa kemarau ini akan panjang dan belum mencapai puncaknya. Bibit-bibit hujan juga masih terbawa oleh angin siklon, sehingga diprediksi curah hujan di wilayah kita akan sangat rendah,” ujarnya.

Menurut Silvan, doa melalui Shalat Istisqa tersebut tentunya harus dibarengi dengan berbagai langkah nyata dalam mencegah dan mengendalikan karhutla. Pemerintah bersama TNI, Polri serta berbagai pihak terus memperkuat upaya penanggulangan bencana karhutla di Sumatera Selatan.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Sumsel juga telah melakukan berbagai persiapan menghadapi potensi karhutla. Gubernur Sumsel telah mengeluarkan maklumat atau imbauan serta membentuk satuan tugas yang melibatkan berbagai unsur dalam penanganan karhutla, baik melalui Satgas Darat maupun Satgas Udara.

“Berbagai upaya sudah kita lakukan, mulai dari pencegahan, sosialisasi, pembagian leaflet, pamflet dan sebagainya. Kita juga ikut dalam upaya pengendalian dengan membuat posko serta melakukan patroli untuk deteksi dini kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.

Silvan menambahkan, deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla. Ketika ditemukan titik panas (hotspot) berdasarkan citra pemantauan, petugas akan melakukan ground checking untuk memastikan kondisi di lapangan.

“Diharapkan sebelum api membesar, sebenarnya kita sudah ada upaya untuk melakukan penanggulangan,” katanya.

Sejumlah wilayah yang berdasarkan peta kerawanan menjadi perhatian antara lain kawasan yang berada dalam wilayah kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), seperti KPH Sungai Lumpur, Mesuji, Benakat, Meranti, Lalan serta KPH Palembang yang wilayah kerjanya termasuk Banyuasin.

Menghadapi musim kemarau, Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara membakar.

“Kami mengimbau masyarakat untuk jangan lagi melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar,” tegas Silvan.

Menurutnya, pencegahan karhutla membutuhkan kepedulian dan partisipasi seluruh masyarakat. Sebab, sekecil apa pun api yang muncul di tengah kondisi kemarau dan rendahnya curah hujan berpotensi berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Shalat Istisqa yang digelar Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel pun menjadi momentum untuk menyatukan ikhtiar dan doa. Di satu sisi memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun, di sisi lain seluruh elemen masyarakat terus bergerak menjaga hutan dan lahan Sumatera Selatan dari ancaman karhutla.

Semangat menjaga lingkungan dan kebersamaan tersebut juga menjadi bagian dari semangat memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan harapan Sumatera Selatan semakin tangguh, aman dari bencana karhutla, serta masyarakat dapat menjalani musim kemarau dengan penuh kepedulian dan gotong royong.pungkasnya”

Komentar