Gua Jepang di Jalan AKBP H Umar Palembang, Terancam Punah dan Lahannya Diduga Akan Dijual Oknum Warga

Berita Utama642 Dilihat

Palembang, Sumselpost.co.id – Kota Palembang menjadi salah satu kota yang pernah dijajah Jepang. Banyak bukti sejarah yang bisa dilihat Gua Jepang. Lokasinya berada di Jalan AKBP H.Umar atau tepat di belakang pasar KM 5 Kota Palembang. Di atas lahan kosong sekitar 2 hektare itu, gua itu tampak masih berdiri kokoh namun sayang terancam roboh dan lahannya diduga akan dijual oknum warga.

Saat ini, tampak gua sudah dipenuhi rumput dan semak belukar karena tak ada perawatan. Pada bagian dalam terlihat gua dipenuhi sampah dan bau tak sedap.

Pihak Aliansi Masyarakat Peduli Cagar Budaya (AMPCB) dipimpin Vebri Al Lintani dan didampingi anggota AMPCB Mang Dayat, Genta, Isnayanti , Minggu (9/6) mengunjungi Gua Jepang tersebut.

Menurut Ketua AMPCB, Vebri Al Lintani menjelaskan kunjungan ini merupakan agenda AMPCB ke Gua Jepang di Jalan AKBP H Umar, Palembang.

“Kita melihat kondisi , Gua Jepang ini semakin memperihatinkan, mestinya ada dua bangunan dimana bangunan kirinya sudah ambruk, sudah hancur dan akan terancam rusak berat dan terancam habislah, kemudian ada patok tanah bahwa menurut sekitar itu sudah di klaim tanah warga, karena ada undang-undangnya untuk menguasai tanah tidak bisa seperti itu tapi sangat mengherankan di tanah negara seharusnya cagar budaya tetapi ada tanah pribadi, ini ada apa kira-kira,” katanya.

Baca Juga  Polres Muba Gelar Apel Operasi Zebra Musi 2023

Dan sekitar lokasi Gua Jepang tersebut menurutnya sudah menjadi lokasi pembuangan sampah dimana harusnya lokasi tersebut menjadi tempat wisata.

“ Kalau melihat kondisi seperti ini , Gua Jepang ini betul-betul terancam punah dan bahkan isu warga setempat pernah ada yang menawarkan itu untuk dijual, kita mencoba menelusuri peningggalan Jepang yang ada disini dan ternyata ada tiga rumah diatas satu , di lingkungan SMP Karya Ibu satu dan dilingkungan Rimba Kemuning satu tadi jadi ada tiga rumah peninggalan Jepang kini sudah menjadi rumah pribadi,” katanya.

Tiga rumah tersebut menurut Vebri memang bercirikan Jepang yang difungsikan sebagai posko atau juga bisa di fungsikan bunker kecil.

“Kalau ditembak tidak tembus dan dindingnya tebalnya sampai satu meter,” katanya.

Pihaknya sempat menyambangi rumah peninggalan Jepang di dekat SMP Karya Ibu dan mewawancara warga yang menempati rumah peninggalan Jepang tersebut.

“ Selayaknya peninggalan ini diperhatikan oleh pemerintah daerah, karena sebenarnya kita merdeka , untuk membangun tapi pembangunan tidak hanya fisik tapi juga jiwa bangsa , membangun jiwa bangsa itu ya mengingat sejarah , bahwa ada Jepang menjajah kita 3,5 tahun dan ada peninggalan-peninggalannya disini, dan mereka bangun bukan dari uang Jepang tapi dari uang dari tempat mereka jajah ini ,” katanya.

Baca Juga  AHM Garansi 5 Tahun Untuk Semua Model

Selayaknya pemerintah daerah melihat Gua Jepang ini dari sisi pembangunan terutama jiwa bangsa atau pembangunan kebudayaan atau pembangunan sejarah ini semua untuk menumbuhkan nasionalisme , untuk mengenang sejarah.

“Tidak boleh kita melupakan sejarah, makin jauh kita dari identitas tambah lemah kita secara psihis , kita tidak percaya diri dengan bangsa ini, dan Gua Jepang ini adalah karya orang Jepang, barangkali orang Jepang yang anak anak veteran mau melihat Gua Jepang ini , ingin melihat bapaknya berjuang di Gua Jepang tersebut, itu peluang untuk wisata, kenangan kenangan itu berpeluang di jual menjadi wisata,” katanya.

Dan pemerintah daerah dan Kodam II Sriwijaya harus melihat Gua Jepang ini sebagai aset.

“ Karena ini dikuasai Kodam II dulunya , dan komitmen Kodam II Sriwijaya untuk Gua Jepang ini tidak ada lagi, sementara ini banyak beralih tangan karena dulu prajurit menunggi aset Jepang ini kita tidak tahu proses beralihnya seperti apa, tetapi ini harus diharga sebagai suatu bentuk wilayah kekuasaan negara dan sebagai Defence Heritage,” katanya.

Baca Juga  Dugaan Pungli Rekrutmen Calon PPS Dan PPK Gelumbang,  Anggota DPRD Desak Usut Keranah Hukum

AMPCB kedepan menurut mantan Ketua Dewan Kesenian Daerah ini akan mencoba secara umum mengkaji peninggalan Jepang ini sebagai Defence Heritage atau budaya yang bernilai pertahanan termasuk Gua Jepang.

“ Kita akan lakukan kajian dan membuat rekomendasi , kita tetap meminta dan mengadvokasi pemerintah karena pemerintahlah yang punya wewenang, punya kekuasaan dan anggaran untuk merevitalisasi Gua Jepang ini , ini sudah sangat-sangat genting, sangat terancam punah,” katanya.

Kedepan ada beberapa Gua Jepang lagi di Palembang yang akan dikunjungi AMPCB seperti di Jalan Joko, di Jakabaring , Lr Sikam Plaju dan di Lebong Gajah.

Komentar