Tolak Pembangunan RS di Kawasan Cagar Budaya BKB, Ratusan Masyarakat Gelar Dzikir Ratib Saman

Berita Utama155 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id – Ratusan masa dari Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam , Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) , Sejarawan, budayawan kota Palembang dan masyarakat Palembang menggelar Dzikir Ratib Saman Bersama Untuk Cagar Budaya Nasional Benteng Kuto Besak (BKB) , Kamis (1/1/2025l) di Gedung Kesenian Palembang.

Dzikir digelar terkait penolakan terhadap pembangunan gedung baru 7 lantai Rumah Sakit (Rs) dr. Ak Gani di kawasan cagar budaya BKB dan meminta pemerintah pusat untuk menyikapi permasalahan ini.
Dalam kesempatan tersebut juga sempat di bacakan syair karya Sultan Mahmud Badaruddin II.

Hadir diantaranya Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin ( SMB ) IV RM Fauwaz Diradja SH Mkn, budayawan Palembang Vebri Al Lintani sejarawan Palembang Dr Kemas Ar Panji Spd Msi zuriat Kesultanan Palembang Darussalam Raden Iskandar Sulaiman , Dr. Nyimas Umi Kalsum (Filolog – Dosen UIN Raden Fatah Plg), R.A. Farida (Zuriat), Kemas H Abdul Hamid (Zuriat Kemas- Sesepuh), Masagus A. Fathoni Husin Umrie (Zuriat Masagus), Kiagus M Fashehulisan SH (Zuriat Kiagus), R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, (Pembakti Kesultanan Palembang Darussalam/ Zuriat) Seniman Palembang Ali Goik, Ketua Dewan Kesenian Palembang M Nasir, Ustad Mustofa, RA Dimyati

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin ( SMB ) IV RM Fauwaz Diradja SH Mkn mengatakan, dzikir Ratib Saman ini digelar sebagai ikhtiar spiritual dan budaya untuk menjaga Benteng Kuto Besak agar tetap lestari sebagai kawasan cagar budaya.

“Pada awal tahun ini, kami berharap Benteng Kuto Besak dapat kembali dinikmati bersama oleh masyarakat. Kita harus menjaga kawasan ini agar tetap lestari dan difungsikan sebagaimana mestinya sebagai benda cagar budaya,” ujarnya.

Ia menegaskan, kawasan BKB seharusnya dapat diisi oleh aktivitas kebudayaan dan menjadi ruang edukasi sejarah bagi masyarakat, khususnya generasi muda Palembang.

“Kami berharap kawasan cagar budaya ini dikembalikan ke fungsi awalnya. Jika memang pihak Rumah Sakit dr Ak Gani hendak mengembangkan gedung 7 lantai hendaknya tidak dikembangkan di BKB karena kita harus bijaksana dalam menjaga warisan budaya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Raden Genta Laksana menjelaskan bahwa Ratib Saman merupakan tradisi budaya Kesultanan Palembang Darussalam yang dahulu digunakan untuk membangkitkan semangat juang.

“Ini adalah tradisi budaya yang mengandung semangat perjuangan. Kami ingin membangkitkan kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan warisan budaya Kesultanan Palembang Darussalam, sekaligus mengedukasi generasi muda tentang identitas budaya Palembang,” katanya.

Raden Genta menegaskan pihaknya menolak pengembangan gedung 7 lantai Rumah Sakit dr Ak Gani yang dinilai berpotensi merusak kawasan cagar budaya BKB.

“Kami tidak ingin sejarah kelam terulang kembali. Karena itu, kami memilih dzikir sebagai cara menyampaikan pesan dan menjaga marwah budaya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa pada Jumat (2/1/2026), pihaknya akan membagikan 289 butir telok abang , yang melambangkan usia Benteng Kuto Besak didirikan hingga kini. Telur tersebut memiliki makna filosofis sebagai simbol harapan dan semangat baru.

“Filosofinya seperti telok yang baru akan menetas, kami menginginkan Benteng Kuto Besak kembali kepada masyarakat dan difungsikan sepenuhnya sebagai kawasan cagar budaya,” pungkasnya.

Budayawan Palembang Vebri Al Lintani menilai pembangunan gedung 7 lantai telah melanggar undang undang cagar budaya.

“Hentikan bangunan 6 lantai untuk pengembangan RS AK Gani yang didirikan oleh Kesatuan Kesehatan Kodam II/Sriwijaya di zona inti kawasan Cagar Budaya BKB,” katanya.

Ia menjelaskan, Kuto Besak atau sekarang disebut dengan Benteng Kuto Besak (BKB) adalah bangunan monumental Kesultanan Palembang Darussalam yang masih dapat dilihat fisiknya.

Kuto ini didirikan oleh Sultan Muhammad Bahauddin (ayahanda Sultan Mahmud Badaruddin II) pada tahun 1780, ketika Kesultanan Palembang Darussalam berada di puncak masa kejayaan.

“Dibandingkan dengan benteng di daerah lain di nusantara, BKB merupakan satu-satunya benteng yang dibangun oleh pribumi. Sedangkan di tempat lain, rata-rata dibangun oleh kolonial,” katanya.

Komentar