Pentingnya Pertahankan Sejarah Dan Kebudayaan Lokal, Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam Lakukan PKM di Musi Banyuasin

Uncategorized527 Dilihat

Palembang, Sumselpost.co.id – Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab Dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang menyelenggarakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dari tanggal 25-27 Juni 2023 dengan mengambil lokasi di Wilayah Kabupaten Musi Banyuasin.

Tema yang diangkat dalam PkM tersebut adalah : Inventarisasi dan Identifikasi Jejak-Jejak Sejarah Dan Kebudayaan di Bumi
Serasan Sekate.

PkM Prodi SPI ini diikuti oleh semua Dosen Prodi SPI yakni: Ottoman, M, Hum; Fitriah, M. Hum; Padila, M. Hum; Sholekhudin, M.Hum; Dra. Sri Suriana, M. Hum,; Nur Fitri Hadi.MA; Santosa. M. Hum; Dr. Amilda M.Hum, Dr. Endang Rochmiatun.M.Hum; Ketua Dan Sekretaris Prodi S2 Jenjang Magister; Dr. Mulyadi M.Hum, Dalilan M. Hum, serta juga melibatkan mahasiswa. Kegiatan PkM ini berfokus pada peninggalan benda (Artefak: Rumah bersejarah, Masjid Kuno serta Komplek Makam bersejarah) maupun tradisi lisan yang ada di masyarakat Musi Banyuasin.

Baca Juga  Sholat Idul Fitri 1444 H Jembatan Ampera Ditutup Polisi

Kegiatan PkM diantaranya dilaksanakan di Kecamatan Sangadesa. Adapun hasil yang dapat diinventarisir dan diidentifikasi yakni terkait Material Culture peninggalan bersejarah berupa Komplek Rumah Pangeran Anang Mahidin yang diperkirakan Rumah tersebut berumur 90-an Tahun.

Rumah ini kental dengan pengaruh arsitektur Belanda dengan dinding semen dan lantai terbuat dari batu marmer bercorak Eropa pada bagian ruang utama, namun demikian pada ruang kamar kamr hingga ruang dapur menggunakan kayu tembesu.

Pada Komplek tersebut juga terdapat rumah Pangeran M. Oemar (1852-1882 M) Sebagian besar rumah ini menggunakan kayu unglen.

Rumah tersebut dahulunya berfungsi sebagai tempat Musyawarah warga sehingga tidak memiliki sekat, hanya ada 1 ruang kecil berukuran 2×2 m dibagian kiri. Rumah ini diperkirakan berumur 160 Tahun.

Jejak bersejarah lainnya adalah Rumah Bersejarah: 1) Rumah Pangeran Abdul Wahab yang dibangun Tahun 1929, Struktur bangunan untuk dinding dan Geladak menggunakan Kayu Tembesu. Adapun tiang penyangga rumah berjumlah 80 buah yang berasal dari Kayu Unglen dan Belian. Terdapat juga Ornamen2 bercorak Kaligrafi Pengaruh Turki. 2) Rumah peninggalan Depati Daud yang merupakan anak atau keturunan Pangeran Sabain. Rumah bersejarah lainnya adalah Rumah peninggalan Pangeran Rivai.

Baca Juga  Yustin Kurniawan Zendrato Bacaleg Golkar Dapil 1 Siap Ikut Pileg Di 2024 Mendatang

Identifikasi terhadap Komplek Makam bersejarah juga dilakukan pada Komplek Pemakaman Pangeran Cekmat. Komplek pemakaman ini menjadi sumber artefak dalam mengkaji sejarah para Pangeran Pangeran yang dahulunya menjabat pada masa Kesultanan Palembang maupun masa Kolonial Belanda.

Ditemukan tipe Nisan yang berbeda pada komplek makam Pangeran Cekmat ini, diantaranya adalah Tipe Nisan Demak Troloyo. Selain itu juga ada tipe nisan Lokal.

Kegiatan PkM juga menggali tradisi lisan yang masih berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah ditemukan kearifan local yang dimiliki masyarakat terkait dengan pengobatan tradisional. Disana masyarakat masih mengenal pengobatan yang biasa disebut dengan istilah “Pengobatan Duhut”.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Pelayanan Publik, Pemkab Muba Gandeng Ombudsman RI Sumsel Beri Pendampingan

Praktek pengobatan ini yakni dengan menggunakan rempah-rempah dan tumbuhan yang masih ada dilingkungan sekitar masyarakat disana. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan pohon songga atau Bidara Pahit atau dalam bahasa latinnya disebut strychnos ligustriana BL, yang sejak lama telah dipakai sebagai obat malaria oleh masyarakat.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa dalam kayu songga, terdapat unsur zat atau bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai pengobatan berbagai penyakit. Dalam kayu songga, terdapat unsur zat atau bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai pengobatan berbagai penyakit.

Komentar