Jalan Usaha Tani Baru Dibangun, Kini Hancur: Dana Desa Rp122 Juta Dipertanyakan Warga

Berita Utama76 Dilihat
banner1080x1080

Banyuasin, Sumselpost.co.id — Kondisi jalan usaha tani di Desa Durian Daun, Kecamatan Suak Tapeh, Kabupaten Banyuasin, menuai sorotan tajam. Infrastruktur yang baru dibangun pada Tahun Anggaran 2025 itu kini sudah rusak parah, memicu kekecewaan masyarakat.Senin/22/04/26

Berdasarkan informasi yang tertera pada papan kegiatan, proyek tersebut merupakan pembangunan jalan desa yang berlokasi di Dusun I RT 001 Desa Durian Daun. Pekerjaan ini bersumber dari Dana Desa TA 2025 dengan nilai anggaran mencapai Rp122.997.739,60 dalam satu paket pekerjaan.

Namun fakta di lapangan berbanding terbalik. Jalan yang seharusnya menjadi akses utama menuju kebun karet dan nanas di kawasan Asam Bandung itu kini berubah menjadi kubangan lumpur. Badan jalan tampak amblas, berlubang, dan dipenuhi genangan air, sehingga sulit dilalui kendaraan.
Warga terpaksa melakukan upaya darurat dengan menyusun papan dan batu agar tetap bisa melintas. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu aktivitas petani, terutama dalam mengangkut hasil kebun.

“Baru dibangun, belum lama sudah hancur. Kalau memang ini pakai dana desa, kami kecewa karena hasilnya tidak sesuai,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga juga mengungkapkan bahwa pembangunan jalan tersebut bukan kali pertama dilakukan. Namun, setiap kali diperbaiki, kondisi jalan kembali rusak dalam waktu singkat.

Menanggapi hal ini, Ketua BPD Desa Durian Daun, Irpan Sandi, membenarkan bahwa proyek tersebut merupakan hasil kesepakatan dalam musyawarah desa (musdes).

“Memang itu sudah disepakati dalam musdes. Tapi terkait anggaran dan teknis pelaksanaan bukan ranah BPD, kami tidak mengetahui secara rinci,” jelasnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan penelusuran lebih lanjut terkait kualitas pekerjaan tersebut. Menurutnya, jika jalan sudah dikerjakan dengan metode pengerasan atau pengecoran namun cepat rusak, maka patut diduga ada ketidaksesuaian standar.

“Kalau memang sudah dicor tapi hancur, itu patut dipertanyakan. Tapi kalau belum dicor, bisa jadi faktor cuaca. Ini akan kami konfirmasi lebih lanjut,” tegasnya.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait transparansi dan kualitas penggunaan Dana Desa. Masyarakat berharap pemerintah desa maupun pihak terkait segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh.

Bagi warga, jalan usaha tani bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan urat nadi perekonomian desa yang sangat vital. Mereka menuntut perbaikan yang benar-benar berkualitas agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.

Hingga berita ini diturunkan, belum a da keterangan resmi dari pemerintah desa terkait penyebab kerusakan maupun rencana perbaikan jalan tersebut.

Komentar