Harga Minyak Bergejolak, Badan Pakar DNIKS: Jaga Daya Beli Masyarakat, Jangan Naikkan Harga BBM!

Nasional52 Dilihat
banner1080x1080

JAKARTA,SumselPost.co.id  — Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) meminta pemerintah segera mereview kembali pos-pos APBN atas rencana penerimaan Q2 hingga Q4 serta pengeluaran atau belanja Q2 hingga Q4 termasuk Q1. Hal ini terkait dengan imbas perang Iran dengan AS-Israel yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia.

“Sebaiknya membuat berbagai opsi termasuk merevisi anggaran yang belum direalisasikan, agar defisit APBN tidak melampaui ambang batas maksimal 3%. Hal ini mengingat ICP terus menerus berjalan jangka panjang (harga rata-rata jangka panjang Q2 s/d Q4),” tegas Wakil Ketua Dewan Pakar DNIKS Sapuan, di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Sapuan memprediksi harga minyak dunia akan terus melonjak, bahkan sempat menyentuh USD 110 per barel. Tingginya harga minyak ini tentu mempengaruhi kekuatan APBN, pasalnya asumsi ICP yang dalam APBN sebesar USD 70/barel. Sehingga berdampak pada bertambahnya subsidi minyak (BBM). “Jadi dampak kenaikan harga minyak tersebut perlu dimitigasi, bahkan kalau perlu mengevaluasi kembali pos-pos APBN sesuai skala prioritas,” ujarnya.

Menyinggung soal gangguan pertumbuhan ekonomi 2026, Sapuan tidak menampik, bahwa dalam jangka panjang tentu berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan bisa melambat sekitar 5,2% hingga 4,9%. “Pasalnya, subsidi BBM makin bertambah, inflasi meningkat, ruang gerak fiskal pemerintah juga terbatas, sehingga berpengaruh pada daya beli masyarakat. Dengan kata lain, semua barang kebutuhan rumah tangga akan ada kenaikan harga dan inflasi meningkat,” tambahnya.

Sebelumnya, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai volatilitas pasar saham domestik masih akan berlanjut di tengah meningkatnya risiko geopolitik global, lonjakan harga energi, serta arus dana asing yang masih fluktuatif. “Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan,” kata Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, Selasa (10/3/2026).

Harga minyak Brent tercatat sudah melonjak di atas USD100 per barel, menyusul kenaikan tajam pada pekan pertama, sekitar 35% dalam sepekan di tengah risiko gangguan pasokan energi global, termasuk potensi gangguan jalur tanker di Selat Hormuz.“Level harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar. Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, harga minyak akan berada di atas level USD100 per barel dalam waktu yang lebih lama, yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan inflasi global, mempersempit ruang pelonggaran moneter, dan memicu risiko stagflasi,” jelas Rully lagi.

Kenaikan harga minyak yang terlalu cepat dinilai berpotensi menahan proses penurunan suku bunga global sekaligus menekan pasar saham, termasuk di emerging markets seperti Indonesia. Pada perdagangan terbaru, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 7.585,69 atau turun 1,62%, sementara indeks MSCI Indonesia (EIDO) melemah 2,70%. Tekanan pasar tersebut juga dipengaruhi oleh arus keluar dana asing yang masih berlanjut dengan net foreign sell sekitar Rp263 miliar.

Meski demikian, beberapa saham berbasis komoditas masih mencatat minat beli investor asing, di antaranya ITMG, PTBA, dan BRMS. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Muhammad Farras Farhan menilai sektor batu bara masih memiliki ketahanan relatif di tengah siklus penurunan harga komoditas.

Dalam riset terbarunya mengenai PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), perusahaan mencatat kinerja yang lebih kuat pada kuartal IV 2025 dengan pendapatan mencapai USD512 juta, didukung oleh peningkatan volume penjualan menjadi 6,8 juta ton serta kenaikan harga jual rata-rata menjadi USD75 per ton. “Kinerja ITMG menunjukkan bahwa disiplin biaya dan efisiensi operasional dapat membantu perusahaan mempertahankan profitabilitas meskipun harga batu bara sedang berada dalam fase penurunan,” kata Farras.

Menurutnya, sektor komoditas berpotensi menjadi salah satu penopang pasar saham domestik ketika volatilitas global meningkat, mengingat sektor ini cenderung memiliki arus kas yang kuat dan masih didukung permintaan global. (MM)

Komentar