Membaca 100 Karya Puisi Widji Thukul

Berita Utama1343 Dilihat

Jakarta, Sumselpost.co.id – Budaya Sesama adalah salah satu upaya dari Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat untuk kembali memperkenalkan dan mengembalikan Kebudayaan kembali kepada akarnya,yaitu: desa-desa,kampung-kampung,pabrik,sawah dan berbagai lingkungan masyarakat awal melalui sejarah dan karya-karya kebudayaan seperti lagu, tari, pertunjukkan, seni beladiri, makanan, kearifan lokal dan lain-lain, Minggu (17/09/2023).

Kebudayaan mau dikembalikan pada setiap memori kolektif masyarakat dalam setiap tutur dan tingkah laku yang berkembang pada masyarakat dengan nilai-nilai serta norma-norma sekaligus menghargai setiap Ciptaaan dan Karya Sang Pemilik Kehidupan dan menempatkan manusia yang memandang kesetaraan kepada manusia yang lain

Dan menjadi sangat istimewa,Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat ingin kembali Mengadakan BUDAYA SESAMA dengan mengambil momentum Hari Lahir Ketua Umum Jaringan Kerja Budaya Rakyat Bung Widji Thukul,seorang seniman, budayawan, organiser masyarakat tetapi yang harus diingat betul Bung Widji Thukul juga adalah manusia politik bahkan menunjukkan nya dengan mengabdikan diri dan ikut serta dalam Pembentukan Persatuan Demokratik yang berubah menjadi Partai Rakyat Demokratik

Baca Juga  KPU Muara Enim Segera Tindaklanjuti Terkait Info Pasutri Terpilih Jadi PPS Gelumbang

Budaya Sesama adalah ide yang mencoba diwujudkan dari Semangat dan Perjuangan Widji Thukul dalam mengabdikan perjuangan nya membela kaum miskin,tersisih dan terpinggirkan atas dasar Cinta Persatuan Kemanusiaan dan Keadilan Sosial. Dan inilah Api Widji Thukul yang ada.

Api Membara dari Widji Thukul dapat dilihat dari setiap kata-kata yang dituangkan dalam bentuk puisi. Keresehan,kemarahan,kesepian,rasa geram,itu terbalut dengan sisi romantis dan kepeduliaan dalam melihat setiap problematika masyarakat. Kata-kata puisi nya membius setiap insan dan tidak lekang dimakan waktu. Inilah Semangat dari Budaya Sesama.

Karena itulah Membaca 100 Karya Puisi Widji Thukul oleh 100 Orang dengan berbagai macam latar belakang,adalah salah satu bentuk kami dari Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat untuk merawat dan terus mempertahankan Api Semangat Widji Thukul. Mengenalkan seseorang lewat karya-karya nya adalah bagaimana memotret kesederhanaan Seseorang Widji Thukul dalam kesehariaannya.

Baca Juga  Buronan Kasus Penggelapan Motor Diamankan Polisi

Maka,17 September 2023,bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki,Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat melangkah maju dengan mengadakan Acara BUDAYA SESAMA: MEMBACA 100 PUISI WIDJI THUKUL

Pada Acara ini juga akan mendengarkan sisi lain Widji Thukul yang akan diwakili oleh Adiknya yaitu Wahyu Susilo dan akan melibatkan kawan-kawan yang pernah terlibat dan bersama-sama dengan Widji Thukul dalam Perjuangan menumbangkan Rejim Otoriter Orde Baru,yaitu Bung Agus Jabo Priyono dan Bung Revritoyoso Husodo

Api Semangat Widji Thukul: Cinta Kemanusiaan Persatuan dan Keadilan Sosial adalah bentuk tertinggi dari Pengabdian Seorang Widji Thukul. Seluruh karya-karya nya bercerita tentang hal itu. Keadilan Sosial adalah ketika masyarakat secara ekonomi dan politik sudah terbebas dari segala bentuk Penjajahan. “Dengan nilai dan semangat gotong royong yang telah mengakar dalam budaya rakyat itulah, kita dapat menyusun kebudayaan nasional yang tangguh dan bermartabat sekaligus terus-menerus memperkuat kedaulatan nasional dan membangun perekonomian nasional yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat dan Puisi – Puisi Widji Thukul kemudian hadir lagi untuk itu.. Ini Cita-Cita Besar…Inilah Masyarakat Adil dan Makmur.

Baca Juga  Serahkan LKPD TA 2023, Pj Gubernur Agus Fatoni Berharap Pemprov Sumsel Kembali Raih Predikat Opini WTP yang Ke-10 dari BPK RI

Dengan Acara ini berharap dapat membangun jaring-jaring kebudayaan mulai dari tingkat bawah,memperkenalkan kebudayaan sebagai salah bentuk kekuatan tertinggi dalam pembentukan karakter nasional dan membangun,menjaga dan mengobarkan terus Api Semangat Widji Thukul.

Semua Orang Adalah Seniman
Semua Tempat adalah Panggung. (niken/ rilis)

Komentar