‎261 Bonsai Ramaikan Anniversary ke-3 PPBI Ranting Plaju Palembang

Berita Utama70 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co..id– Pecinta bonsai di Kota Palembang kembali menunjukkan eksistensinya. Sebanyak 261 pohon bonsai dari berbagai daerah, di antaranya Lahat dan Ogan Ilir, ikut ambil bagian dalam Anniversary ke-3 Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Ranting Plaju sekaligus Pameran Lokal Bonsai.

‎Kegiatan yang berlangsung 2–6 September 2026 ini digelar di halaman Universitas Bina Darma Palembang. Beragam jenis bonsai dipamerkan, mulai dari Anting Putri, Santigi, Waru, hingga berbagai jenis lainnya.

‎Tidak hanya menjadi ajang memamerkan keindahan tanaman, kegiatan tersebut juga menjadi wadah silaturahmi bagi para penggemar bonsai. Lebih dari itu, pameran ini menjadi ruang bagi para pehobi untuk saling berbagi pengalaman dan menunjukkan hasil karya yang telah dirawat dalam waktu panjang.

‎Ketua PPBI Kota Palembang, Kombes Pol. Tri Martono, S.Sos., M.Si., mengatakan pameran tersebut merupakan kontes tingkat ranting yang mendapat antusiasme dari peserta berbagai daerah.

‎“Kontes hari ini diikuti sekitar 261 pohon dari beberapa wilayah, termasuk Lahat dan Ogan Ilir. Alhamdulillah kegiatannya berjalan lancar. Tadi kita juga menyaksikan Best Ten dan Best in Show, dan semuanya diraih oleh Bapak Iskandar dari Lahat,” ujar Tri Martono.

‎Menurut Tri Martono, bonsai memiliki nilai seni yang jauh lebih besar daripada sekadar tanaman yang dibuat berukuran kecil dan ditempatkan di dalam pot.

‎Setiap bentuk batang, lekukan, hingga percabangan membutuhkan proses panjang. Karena itu, merawat bonsai membutuhkan ketekunan, kesabaran serta kecintaan terhadap seni.

‎“Bonsai bukan hanya tentang pohon kecil dalam pot. Bonsai adalah tentang seni, kesabaran dan proses. Setiap lekukan batang, setiap percabangan, adalah cerita panjang puluhan tahun,” ungkapnya.

‎Ia menjelaskan, kegiatan PPBI juga memiliki tujuan yang lebih luas. Selain mempererat persaudaraan antarpecinta bonsai, kontes dan pameran diharapkan dapat menghadirkan kompetisi yang sehat, memberikan edukasi kepada masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif.

‎Bagi Tri Martono, pameran di Plaju juga menjadi kegiatan kedua yang digelar selama dirinya menjabat sebagai Ketua PPBI Kota Palembang. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di kawasan Sukarami.

‎“Ini pelaksanaan yang kedua selama saya menjabat sebagai Ketua PPBI Kota Palembang. Sebelumnya kita melaksanakan kegiatan di Sukarami, dan sekarang pameran lokal di Plaju,” jelasnya.

‎Siapkan Pameran Bonsai Nasional 2027‎

‎Tidak ingin berhenti pada kegiatan tingkat lokal, PPBI Kota Palembang mulai menyiapkan agenda yang lebih besar. Salah satunya adalah rencana Pameran Bonsai Nasional (Papnas) yang ditargetkan berlangsung pada Mei 2027.

‎Rencananya, kegiatan berskala nasional tersebut akan digelar di halaman Gedung DPRD. Jika terealisasi, Papnas diharapkan dapat mempertemukan para penggemar bonsai dari berbagai provinsi di Indonesia.

‎Untuk menjaga kualitas penilaian, proses penjurian juga direncanakan melibatkan juri dari Jakarta.

‎“Puncaknya nanti kami rencanakan melaksanakan Papnas pada Mei 2027. Rencananya di halaman Gedung DPRD dan kemungkinan akan dihadiri peserta dari provinsi lain karena skalanya nasional. Untuk penjuriannya juga direncanakan dari Jakarta,” katanya.‎

‎Tri Martono juga mengapresiasi dukungan pemerintah terhadap kegiatan komunitas. Menurutnya, kehadiran dan perhatian pemerintah menjadi motivasi bagi para pengurus serta anggota PPBI untuk terus bergerak dan mengembangkan kegiatan bonsai di Palembang.

‎“Kehadiran dan ucapan dari pemerintah bagi kami sudah cukup menjadi penyemangat, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

‎Memasuki usia tiga tahun, Tri Martono berharap PPBI Ranting Plaju semakin solid dan kompak. Ia juga berharap semakin banyak karya bonsai berkualitas yang lahir dari para anggota.

‎Lebih jauh, bonsai diharapkan tidak hanya dipandang sebagai sebuah hobi, tetapi juga mampu berkembang sebagai bagian dari seni, budaya dan ekonomi kreatif masyarakat.

‎“Di usia yang ketiga ini, semoga PPBI Ranting Plaju semakin solid, semakin kompak dan banyak melahirkan karya bonsai berkualitas serta semakin bermanfaat bagi masyarakat,” harapnya.

‎Perjalanan sebuah bonsai menjadi karya bernilai seni memang tidak berlangsung dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu, perawatan dan ketekunan untuk membentuknya.

‎Dari sebuah tanaman yang sederhana, tangan-tangan para pecinta bonsai mampu menghadirkan karya yang memiliki karakter dan nilai estetika. Sebuah pesan sederhana pun muncul dari sana: keindahan tidak lahir secara instan, tetapi tumbuh bersama waktu, kesabaran dan ketekunan.

Komentar