Palembang, Sumselpost.co.id –
Di sepuluh hari pertama Ramadhan 1443 Hijriah, Ustadz Burhanuddin diuji oleh takdir yang tak biasa. Dua perempuan shalihah hadir bersamaan dalam hidupnya, membawa kisah cinta, doa, dan rahasia Ilahi yang kelak berujung pada pertemuan abadi di akhirat.
Maryam, cinta lama semasa SMA yang telah lama berpisah dan kini berstatus janda, kembali hadir setelah pertemuan mereka di Masjid Irma As Sakinah, Palembang. Sementara Mutiara Syafira, perempuan shalihah keturunan bangsawan Malaka, adalah sahabat semasa kuliah di Universitas Al-Azhar, Mesir.
Keduanya menjalin komunikasi intens dengan Ustadz Burhanuddin selama Ramadhan. Dari sekadar menanyakan kabar, membangunkan sahur, hingga berbagi kisah kehidupan. Situasi itu membuat sang ustadz diliputi kebimbangan.
Dalam keheningan malam, Ustadz Burhanuddin bermunajat melalui shalat tahajud, memohon petunjuk jodoh terbaik kepada Allah SWT. Jawaban itu datang dengan cara yang tak terduga—dua mimpi dari dua perempuan berbeda, di malam yang sama, dengan makna yang serupa: keikhlasan berbagi cinta.
Pada pertengahan Ramadhan, Ustadz Burhanuddin resmi melamar Maryam. Rencana pernikahan pun ditetapkan usai Idulfitri 1443 H. Tak lama berselang, ia bersama ibundanya bertolak ke Malaka, Malaysia, untuk meminang Mutiara Syafira, yang lamaran keluarganya diterima dengan penuh adat dan kehormatan.
Akad nikah dijadwalkan berlangsung Mei 2022. Namun takdir berkata lain.
Dalam perjalanan pulang menuju Palembang, pesawat yang ditumpangi Ustadz Burhanuddin dan ibunya mengalami kecelakaan setelah kehilangan kendali di atas Pulau Sumatra. Seluruh penumpang dinyatakan wafat.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Dalam kisah ini, Ustadz Burhanuddin tak sempat menjalani dua pernikahan di dunia. Namun keyakinan iman membawanya pada akhir yang indah: ia disambut dua bidadari surga—dua perempuan shalihah yang dicintainya dengan doa dan keikhlasan.
Cerpen ini mengajarkan bahwa cinta sejati bukan sekadar memiliki, melainkan menerima takdir Allah dengan iman dan keikhlasan.
(Kms. Sofyan Abdullah)
Palembang, 21 April 2022














Komentar