Palembang,Sumselpost.co.id – Menjelang pelantikan Pengurus IKA-MUBA masa bakti 2026–2030, muncul satu pertanyaan yang patut direnungkan bersama: setelah kepengurusan terbentuk, peran apa yang akan benar-benar dijalankan oleh organisasi ini?
Pertanyaan tersebut penting karena modal untuk membangun Musi Banyuasin sesungguhnya telah tersedia pada berbagai pihak. Pemerintah memiliki kewenangan dan program. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan. Dunia usaha mempunyai jaringan dan sumber daya. Para profesional memiliki kepakaran, sedangkan masyarakat memahami secara langsung persoalan yang mereka hadapi.
Namun, modal yang tersebar pada berbagai pihak itu belum otomatis membentuk kerja bersama yang berkesinambungan. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, profesional, dan masyarakat telah sering bertemu dalam rapat, musyawarah, forum konsultasi, seminar, dan berbagai kegiatan lainnya. Aspirasi disampaikan, gagasan dibicarakan, dan komitmen dinyatakan. Persoalannya, setelah forum selesai, belum selalu ada pihak yang secara konsisten menghubungkan kebutuhan yang telah disampaikan dengan orang atau lembaga yang dapat menindaklanjutinya.
Kesenjangan inilah yang membuka ruang bagi IKA MUBA. Ruang tersebut akan tampak lebih jelas jika kita melihat persoalan klasik yang kerap dihadapi organisasi kekeluargaan setelah sebuah forum atau kegiatan selesai.
Masalah Klasik Setelah Forum
Tantangan organisasi seperti IKA-MUBA biasanya bukan terletak pada kurangnya semangat, anggota, atau kegiatan. Persoalan yang lebih sering muncul adalah kerja organisasi berpusat pada penyelenggaraan acara, sementara tindak lanjut bergantung pada inisiatif pribadi beberapa orang. Ketika acara selesai, pengurus kembali pada kesibukan masing-masing, informasi tersebar dalam percakapan, dan tanggung jawab untuk meneruskan hasil pertemuan tidak selalu terbagi dengan jelas.
Akibatnya, organisasi dapat terlihat aktif saat pelantikan, rapat, seminar, atau kegiatan sosial, tetapi belum memiliki cara kerja yang memastikan kebutuhan anggota dan masyarakat tetap ditindaklanjuti. Banyak orang saling mengenal, tetapi organisasi belum tentu memiliki data yang jelas mengenai siapa yang mempunyai keahlian tertentu, siapa yang dapat membuka akses, dan siapa yang bersedia mengambil peran ketika suatu kebutuhan muncul.
Luasnya jaringan, karena itu, belum dengan sendirinya menjadi kekuatan organisasi. Jaringan baru memberi manfaat apabila hubungan personal dapat diterjemahkan menjadi peta keahlian dan akses, pembagian peran yang jelas, serta tanggung jawab yang dapat diteruskan. Kebutuhan mengubah kedekatan menjadi kerja bersama inilah yang membawa IKA MUBA pada pilihan peran berikutnya.
Pilihan Peran IKA-MUBA: Penghubung dalam Semangat Serasan Sekate
Falsafah serasan sekate sering dimaknai sebagai kerukunan, kesepahaman, dan kebersamaan. Dalam kehidupan organisasi, maknanya tidak berhenti ketika kesepakatan tercapai. Serasan sekate justru memperoleh arti ketika setiap pihak menjalankan perannya, komunikasi tetap terjaga, dan kesepakatan berlanjut menjadi tindakan.
Berangkat dari pemaknaan tersebut, IKA-MUBA berhadapan dengan dua pilihan. Pertama, tetap menjadi paguyuban yang terutama hidup melalui pertemuan, kedekatan personal, dan kegiatan kekeluargaan. Kedua, berkembang menjadi organisasi penghubung yang mengubah silaturahmi menjadi jaringan kepakaran, akses, dan kontribusi.
Pilihan kedua menawarkan peran yang lebih khas dan lebih dibutuhkan. Kekuatan IKA-MUBA bukan hanya terletak pada banyaknya anggota, tetapi pada keragaman keahlian, pengalaman, dan jejaring yang mereka miliki. Peran organisasi adalah membuat kapasitas tersebut dapat dikenali dan digunakan ketika kebutuhan muncul.
Dengan pilihan tersebut, silaturahmi tidak berhenti sebagai keakraban. Generasi muda yang mencari kesempatan dapat dihubungkan dengan anggota yang memiliki akses pendidikan, pelatihan, atau pekerjaan. Pelaku usaha yang menghadapi kendala dapat dipertemukan dengan pihak yang memahami perizinan, keuangan, pemasaran, atau jaringan pasar. Persoalan masyarakat dapat diteruskan kepada lembaga yang mempunyai kewenangan dan sumber daya untuk menanganinya.
Kemampuan mempertemukan berbagai pihak itulah yang memberi isi pada hubungan IKA-MUBA dengan pemerintah dan lembaga lainnya. IKA-MUBA tidak hanya hadir sebagai “mitra”, sebuah sebutan yang terlalu luas apabila tidak disertai fungsi yang jelas. Sebagai penghubung, IKA MUBA dapat membawa persoalan yang telah dirumuskan dengan baik, kepakaran yang siap digunakan, dan jejaring yang dapat membuka jalan menuju tindak lanjut.
Peran tersebut tidak berarti mengambil alih kewenangan pemerintah atau menjanjikan penyelesaian seluruh persoalan. IKA-MUBA bekerja pada bagian yang sering terlewat: mempertemukan pihak-pihak yang dapat saling membantu, memperjelas peran masing masing, dan menjaga komunikasi sampai diperoleh tanggapan atau tindakan.
Agar fungsi penghubung tidak bergantung pada ingatan dan kedekatan beberapa orang, IKA MUBA perlu memiliki data yang mudah diperbarui mengenai keahlian, pengalaman, dan jejaring para anggotanya. Dengan data tersebut, hubungan yang telah dibangun dapat diteruskan, pengalaman dapat dimanfaatkan kembali, dan tindak lanjut yang belum selesai dapat dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya.
Menguji Pilihan dalam Kerja Nyata
Pilihan menjadi organisasi penghubung baru memiliki arti apabila terlihat dalam cara kerjanya. Ketika suatu kebutuhan disampaikan, IKA MUBA dapat membantu merumuskannya dengan jelas, mengenali anggota atau lembaga yang relevan, membuka komunikasi, dan mengikuti prosesnya hingga diperoleh tanggapan atau tindak lanjut. Dalam proses inilah semangat serasan sekate memperoleh bentuk yang nyata: setiap pihak menjalankan fungsi yang berbeda, tetapi saling melengkapi menuju tujuan yang sama.
Dengan cara kerja tersebut, seminar, bakti sosial, dan pertemuan keluarga tetap mempunyai tempat. Namun, kegiatan tidak dipandang sebagai akhir dari kerja organisasi. Nilainya justru terlihat dari apa yang terjadi sesudahnya: akses yang terbuka, hubungan yang berlanjut, dan kebutuhan yang memperoleh tindak lanjut.
Seminar pendidikan, misalnya, akan lebih berarti apabila peserta memperoleh informasi dan akses menuju beasiswa, pelatihan, atau kesempatan magang. Demikian pula bakti sosial akan mempunyai manfaat yang lebih panjang apabila keluarga yang masih membutuhkan bantuan dihubungkan dengan layanan yang sesuai.
Seratus hari pertama setelah pelantikan dapat menjadi ujian sederhana bagi pilihan peran tersebut: mampukah IKA-MUBA mengawal penanganan satu kebutuhan sejak disampaikan, mempertemukannya dengan pihak yang tepat, dan memastikan adanya tanggapan, layanan, atau kesempatan yang konkret?
Satu rangkaian tindak lanjut yang tuntas akan lebih bermakna daripada banyak agenda yang tidak mempunyai kelanjutan. Jika alur dari penyampaian kebutuhan hingga tindak lanjut dapat diselesaikan, IKA-MUBA tidak hanya menghasilkan sebuah program, tetapi juga menemukan cara kerja yang dapat diterapkan kembali pada persoalan lain, meskipun pengurus dan agenda organisasi berganti.
Dengan kemampuan tersebut, IKA-MUBA tidak perlu menjadi organisasi terbesar atau menyelenggarakan kegiatan terbanyak. Peran yang lebih penting adalah menjadi penghubung yang dapat dipercaya, yang mampu menerjemahkan semangat serasan sekate ke dalam kerja bersama yang menghasilkan manfaat.
Pelantikan menandai awal komitmen. Makna kepengurusan baru akan terlihat dari kemampuan IKA-MUBA mempertemukan masyarakat yang membutuhkan dengan kepakaran, kesempatan, layanan, dan lembaga yang mampu menindaklanjutinya.
Opini oleh: Dr. Ir. Zuber Angkasa, M.T., IAI (Dosen dan praktisi arsitektur, putra Musi Banyuasin)
—————————————————————–














Komentar