Puskapol UI Siap Meng-Endorse Partai Gelora Asal Pro-Perempuan untuk Pemilu 2029

Nasional41 Dilihat
banner1080x1080

JAKARTA,SumselPost.co.id  – Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Dr. Hurriyah mengatakan, Koalisi Masyarakat Sipil membuka peluang untuk meng-endose Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia pada Pemilu 2029 asalkan pro-perempuan. Hal itu dalam rangka penguatan peran perempuan dalam ranah legislatif.

Selain memenuhi keterwakilan perempuan 30 persen, Partai Gelora juga harus menempatkan semua calon anggota legislatif (caleg) perempuan pada nomor urut 1 sekurang-kurangnya pada 30 persen daerah pemilihan (dapil), bukan sekedar formalitas.

Penegasan tersebut disampaikan Hurriyah saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Desk Verpol Pusat bersama Ketua Pemenangan Teritori (KPT) Partai Gelora akhir pekan lalu.

“Kalau Partai Gelora misalnya, punya komitmen menempatkan setidaknya 30% saja perempuan di nomor urut 1, maka Puskapol UI akan menjadi organisasi yang meng-endorse untuk memilih Partai Gelora,” kata Hurriyah, Jumat (9/10/2026).

Menurut Hurriyah, dukungan Puskapol UI tersebut, tentu saja bersyarat dan harus dipenuhi Partai Gelora, dimana pencalonan caleg perempuan tidak boleh menggunakan peraturan lama, yakni satu diantara tiga calon.

“Harus terapkan Zipper System Murni (1:1). Partai Gelora harus mendorong skema penempatan calon legislatif dengan pola selang-seling murni (satu perempuan, satu laki-laki) dari urutan teratas, bukan sekadar penempatan formalitas “satu di antara tiga calon” yang sering ditaruh di nomor urut bawah,” ujarnya.

Sebab, berdasarkan riset Puskapol sejak 2009, peluang keterpilihan caleg nomor urut 1 mencapai 65 persen, nomor urut 2 sebesar 50 persen, sedangkan nomor urut 3 turun drastis menjadi 40 persen.

“Karena itu menempatkan perempuan di nomor urut bawah secara langsung memangkas peluang mereka melenggang ke Senayan. Padahal perempuan pun bisa jadi panglima perang seperti Siti Aisyah, istri Rasulullah,” katanya.

Selain itu, kata Hurriyah, di lapangan, caleg perempuan kerap berjuang tanpa modal dan fasilitas memadai dari partai, berbeda dengan caleg laki-laki. “Sehingga muncul usulan agar regulasi menciptakan reserved seats (kursi khusus) yang memungkinkan pertarungan antarcaleg perempuan demi menjamin iklim kompetisi yang adil,” ungkapnya.

Sekali lagi Hurriyah memberikan penegasan, bahwa Puskapol UI menyampaikan tawaran endorsement kepada Partai Gelora asalkan komit menempatkan minimal 30 persen caleg perempuan di nomor urut 1 sekurang-kurangnya pada 30 persen dapil.

“Puskapol UI menyatakan siap memberikan endorsement atau dukungan terbuka bagi partai politik yang berani menempatkan minimal 30 persen caleg perempuan di nomor urut 1 pada sekurang-kurangnya 30 persen daerah pemilihan,” tambahnya.

Dosen Ilmu Politik FISIP UI ini menjelaskan, isu keterwakilan perempuan saat ini masih menjadi sorotan tajam dalam berbagai diskusi mengenai revisi UU Pemilu.

Puskapol dalam risetnya menemukan fenomena mengkhawatirkan, dimana lebih dari 50% politisi perempuan pernah mengalami atau mendengar kekerasan politik berbasis gender.

“Saya tidak menyebut nama dan partainya, tapi ada yang bercerita untuk mengamankan nomor pencalonannya dia harus tidur dengan petinggi partainya. Ini yang kita sebut sextortion,” ungkapnya.

Ia menyebut UU Pemilu hari ini juga belum mengatur sama sekali kekerasan terhadap perempuan dalam politik. Jika ada yang melapor, partai lepas tangan dan menganggap itu urusan personal ke polisi.

“Partai dan parlemen belum menjadi ruang yang nyaman dan ramah buat perempuan. Masih penuh asap rokok, masih siul-siulan kalau perempuan masuk ruangan, itu sudah kekerasan,” katanya.

Menanggapi hal ini, Ketua Korbid Organisasi Sayap DPP Partai Gelora Ratu Ratna Damayani (Mia) menyampaikan apresiasi atas dukungan Puskapol UI yang akan memberikan endorsement kepada Partai Gelora apabila komitmen terhadap keterwakilan perempuarn.

“Ini sepertii memberikan peluru dan harapan kepada temen-temen, yang akan memberikan warna di parlemen. Kita akan menyampaikan rekomendasi ke pimpinan soal ini, dan kita akan membuat narasi-narasi soal keterwakilan perempuan lebih massif lagi,” kata Mia.

Ia mengatakan, apa yang disampaikan Dr Hurriyah sebagai sebuah pemikiran dan harapan bagi Partai Gelora, terutama di tengah upaya menuntaskan struktur di tingkat bawah untuk memenuhi keterwakilan perempuan 30 persen.

“Meski saat ini Partai Gelora sebagai partai nonparlmen, kita optimis Pemilu 2029 akan masuk parlemen. Dan kita ingin pemilu nanti, pakai sistem distrik. Siapapun yang dipilih masyarakat, karena memang kualifikasinya, kepeduliannya dan lain sebagainya,” ujar Mia.

*MMP Jalan Tengah Sistem Pemilu*

Dalam kesempatan ini, Direktur Eksekutif Puskapol UI Hurriyah menambahkan, sistem Mixed-Member Proportional (MMP) atau proporsional campuran merupakan jalan tengah yang paling rasional.

Sebab, sstem pemilu campuran memungkinkan kombinasi antara daftar calon yang disusun partai dengan pemilihan langsung oleh masyarakat.

“Dengan demikian, partai tetap memiliki peran dalam menentukan kandidat terbaik, sekaligus memberikan kesempatan bagi pemilih untuk memilih secara lebih demokratis,” katanya.

Menurutnya, mengembalikan pemilu ke sistem proporsional tertutup adalah langkah ekstrem yang tidak populer di kalangan akademisi dan masyarakat sipil.

Sementara itu, mempertahankan sistem terbuka saat ini merupakan batas minimum untuk menjaga hak pilih langsung rakyat dari kooptasi elite partai.

“Dengan sistem pemilu campuran, Indonesia bisa mencapai dua tujuan utama, yaitu penguatan institusi partai politik dan peningkatan keterwakilan politik perempuan,” katanya.

Ia juga mengajak partai non parlemen dan politik baru serta jaringan masyarakat sipil untuk solid membangun public pressure dari luar parlemen agar pembahasan revisi undang-undang pemilu benar-benar berpihak pada demokratisasi dan keterwakilan yang inklusif

“Dengan sistem pemilu campuran, kita bisa memperkuat partai politik dan meningkatkan keterwakilan perempuan dalam politik, sehingga demokrasi kita menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan,” katanya.

Puskapol UI berharap Partai Gelora tetap menjadi pembeda dengan partai politik lainnya dengan narasi-narasinya, dan tidak ikut terbawa arus.

“Pemilu 2029 ini pertarungan David versus Goliath. Kalau strateginya tebar duit seperti partai besar, Partai Gelora tidak akan menang. Caranya adalah membangun representasi politik, bikin pemilih jatuh hati, bukan cuma naksir karena duit,” pungkasnya. (MM)

 

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar