Palembang,Sumselpost.co.id – Seberapa kenal generasi muda Ogan Ilir (OI) dengan seni Dulmuluk? Jawabannya mungkin cukup memprihatinkan. Meski Kurikulum Berdampak saat ini memberi kebebasan penuh bagi guru sejarah untuk mengeksplorasi materi lokal dan mengasah historical thinking siswa, pada kenyataannya pembelajaran di kelas masih didominasi materi yang itu-itu saja.
Agar sejarah dan budaya lokal tak makin tergerus zaman, Tim Pengabdian FKIP Unsri mengambil langkah nyata. Dipimpin oleh Dr. Dedi Irwanto bersama Prof. Farida, tim akademisi ini menyambangi SMAN 1 Tanjung Batu Kabupaten OI untuk memperkuat kapasitas para guru sejarah di OI, Senin (27/7/2026).
Dalam kegiatan pengabdian yang juga diperkuat oleh Dr. Agustina Bidarti, M. Reza Pahlevi, dan M. Taofik Kurrohman ini, seni Dulmuluk dibedah secara mendalam. Tak tanggung-tanggung, seniman muda Randy Putra Ramadhan, S.Pd. turut diboyong untuk mengisi masterclass, membekali para guru strategi kreatif mengenalkan Dulmuluk di ruang kelas.
Kekhawatiran akan lunturnya seni Dulmuluk diutarakan langsung oleh Prof. Farida. Beliau mengenang masa-masa ketika Dulmuluk masih menjadi “raja” di tengah masyarakat.
“Tahun 1960 sampai 1970-an, Dulmuluk itu hiburan wajib di setiap acara pernikahan warga. Sekarang? Hanya tampil di panggung-panggung seremonial pejabat. Dulmuluk tak lagi dinikmati publik, dan anak-anak muda makin tak kenal. Ini tugas kita untuk menghidupkannya lagi,” tegas Prof. Farida.
Membedah asal-usulnya, Dr. Dedi Irwanto mengungkapkan fakta menarik, Dulmuluk ternyata lahir dari denyut modernisasi dan geliat pariwisata Palembang tempo dulu guna menarik investor asing. Berdiri sebagai Stadsgemeente pada 6 April 1906, Palembang kerap menggelar perayaan bergengsi seperti Koninginnedag (Hari Ratu Wilhelmina) atau Pekan Pasar Malam tiap akhir Agustus. Untuk menyemarakkan suasana, pemerintah Belanda memboyong rombongan Komedi Stamboel ternama dari Singapura bernama “Mahkota India”.
Decak kagum penonton saat itu rupanya memantik kreativitas seniman lokal bernama Wak Nang Nong. Berbekal inspirasi tersebut, pada 1910 ia mentransformasi Syair Abdulmuluk karangan Wan Bakar dari tradisi tutur lisan menjadi pementasan teater berpakem baku. Dari sanggar Abdulmoeloek-theater milik Wak Nang Nong di Tangga Panjang, Kampung 7 Ulu, lahirlah generasi awal aktor-aktor Dulmuluk lokal yang membawa seni ini mencapai masa keemasannya.
Lima bulan berlatih keras akhirnya terbayar tuntas. Pada 16–22 April 1910, kelompok Abdulmoeloek-theater menggelar pementasan perdana di Guguk Tanggo Takat, sebuah lokasi bersejarah yang dulu menjadi tempat pembacaan syair.
Beratap daun nipah tanpa panggung dan diterangi pendar hangat lampu gas, panggung sederhana itu mendadak jadi magnet. Sebuah tempat sesajen diletakkan di samping panggung, menyertai aksi para pemain. Reaksi penonton? Sangat riuh! Selain cerita yang menyebar luas dari mulut ke mulut, apresiasi penonton pun diwujudkan secara spontan lewat tradisi ‘lemparan uang’ ke arah panggung.
Gelombang kepopuleran ini sampai mencuri perhatian media kolonial. Koran Palembangsch Nieuwsblad mengulas pementasan tersebut dengan pujian hangat.
“Wak Nang Nong disanjung setinggi langit. Koran Belanda saat itu menyebutnya Toean Nang Nong, Abdulmoeloek-theater Directeur. Beliau adalah dalang, sutradara, sekaligus aktor bertutur yang sangat piawai,” tutur Dr. Dedi Irwanto, memaparkan hasil riset sejarahnya selama setahun.
Kepopuleran Group Abdulmoeloek tak terbendung. Undangan pentas datang bertubi-tubi dari para Pasirah di wilayah Uluan, mulai dari Marga Pemulutan, Marga Danau, hingga Marga Rambutan.
Puncak kejayaan teater ini terjadi ketika Gemeenteraad Kota Palembang menunjuk mereka tampil pada pembukaan Koninginnedag, 31 Agustus 1910, menggantikan kelompok teater asal Singapura, Mahkota India. Tak berhenti di situ, mereka juga rutin mengisi panggung di Gedung Societiet bagi kalangan pekerja Melayu dan Tionghoa. Perekonomian para aktor lokal pun terangkat drastis dari hasil bagi hasil pementasan dan ‘saweran’ penonton.
“Sangat disayangkan, rekam jejak kejayaan Dulmuluk pada masa kolonial ini belum banyak disadari oleh para pendidik,” jelas Prof. Farida. Oleh karena itu, bersama Dr. Agustina Bidarti, M. Reza Pahlevi, dan M. Taofik Kurrohman, tim FKIP Unsri tergerak membawa narasi ini ke ruang kelas melalui media pembelajaran modern berbasis E-Comic.
Inisiatif ini disambut dengan antusias oleh Kepala SMAN 1 Tanjung Batu, Yarman, S.Pd. Menurutnya, pendekatan visual adalah kunci utama menarik minat belajar Generasi Z saat ini.
“Inovasi bahan ajar sejarah lokal seperti ini adalah hal yang sangat dibutuhkan para guru. Mengubah sejarah Dulmuluk menjadi komik digital interaktif merupakan langkah cerdas yang disukai siswa Gen-Z. Kami berharap sinergi dan pendampingan dari FKIP Unsri bisa terus berlanjut,” ungkap Pak Kepsek muda, Yarman, S.Pd.

















Komentar