Eksploitasi Orang Jadi TKI, Beti Warga Palembang Ditangkap

Berita Utama1933 Dilihat

Palembang,Sumselpost.co.id – Diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang, Beti Maysa (47), warga 7 Ulu Kecamatan SU I, Palembang harus berurusan dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Polrestabes Palembang, Selasa, (5/3), sekitar pukul 15.00.

Kejadian berawal, 4 Maret 2023 pukul 23.30, Personel Unit PPA mendapatkan laporan informasi terkait informasi akan adanya keberangkatan TKI Ilegal ke Negara Malaysia melalui Batam, yang diketahui pada tanggal 5 Maret 2024 di pukul 04.00 dari Penampungan PT. Bina Kerja Cemerlang yang beralamatkan dijalan SH Wardoyo Kelurahan 7 Ulu Kecamatan SU I, Palembang, dan segera melakukan koordinasi dengan BP3MI Prov Sumsel, terkait perizinan PT. Bina Kerja Cemerlang.

Kemudian, pada tanggal 5 Maret 2024 pukul 02.00 anggota Unit PPA Sat Reskrim Polrestabes Palembang mendatangi dan melakukan penggrebekan, setelah dilakukan pengecekan di TKP ditemukan 4 (empat) pekerja perempuan di lantai 4 ruko tersebut, yang telah siap diberangkatkan sebagai TKI melalui kota Batam yang selanjutnya akan di bawa menggunakan jetpoil/perahu menuju Negara Malaysia.

Baca Juga  Polda Sumsel dan Jajaran Akan Gelar Operasi Kepolisian Sikat Musi-2024

Selanjutnya para korban dan pelaku dibawa ke Polrestabes Palembang untuk dilakukan pemeriksaan secara intensif.

Kemudian pada pukul 04.00, anggota Unit PPA kembali ke TKP untuk menunggu taxi penjemput dan saksi AS yang akan melakukan pengantaran para korban ke bandara dan selanjutnya kedua saksi di bawa ke Polrestabes Palembang untuk di mintai keterangan.

Tak sampai disana, petugas pun langsung mengamankan tersangka, Beti Maysa, dan guna untuk mempertanggung jawabkan ulahnya, Beti langsung digiring ke Polrestabes, Palwmbang guna mempertanggung jawabkan ulahnya.

“Ini berawal dari petugas mendatangi adanya laporan dari warga, lalu ditindaklanjuti unit PPA Satreskrim Polrestabes, Palembang melakukan penyelidikan, ” kata Kapolrestes, Palembang, Kombes Pol Narryo Sugihhartono Didampingi Kasat Reskrim AKBP Haris Dinzah dan Kanit PPA Iptu Fifin Sumailan, Jumat, (8/3).

Lalu setelah dilakukan penyelidikan dan ternyata bener, pelaku melakukan perkara penempatan pekerja Migran Indonesia atau penempatan yang tidak memenuhi syarat pekerja Migran dan atau tindak pidana membawa warga negara Indonesia keluar negeri dengan tujuan untuk exploitasi dan atau membantu atau melakukan percobaan untuk melakukan perdagangan orang.

Baca Juga  Sopir Angkot Tikam Teman Satu Profesi

“Jadi modus pelaku ini benar setelah dilakukan penyelidikan modusnya memperkerjakan orang ke luar negeri mengunakan paspor tetapi tanpa bisa,” katanya.

Menurutnya data yang dihimpun Satreskrim Polrestabes, Palembang, sudah memberangkat 200 orang sejak tahun 2018.
Dan untuk menjadi untuk seorang yang hendak menjadi TKI seseorang tersebut harus menyiapkan uang sebesar Rp 15 juta,” uang 15 juta ini, 9 juta nya untuk menyalurkan di luar dan 6 jutanya untuk pelaku, dengan alasan untuk dana operasional, dan bisa dicicil selama 3 bulan dalam sebulan Rp 5 juta, ” bebernya, sambil mengatakan dalam sebulan pekerja ini di gaji 5 juta dalam 1 bulan.

Selain mengamankan pelaku, sambung Kapolrestabes, Palembang pihaknya juga mengamankan barang bukti berupa, 29 Paspor yang belum dipergunakan, 4 paspor yang telah dipergunakan, 2 Buah HP berisikan Video Interview, foto, serta biodata para korban Buku daftar nama, beserta no Paspor TKW dari th 2019 sd 2021
Lalu Buku daftar nama TKW tujuan Malaysia dari th 2023 sd 2024 dan Tiket pesawat tujuan Batam an ke empat Korban.

Baca Juga  Pengemudi Mobil yang Tabrak Ojol dan Penumpangnya Hingga Tewas di Tangkap

Beti akan dijerat Pasal 81 jo Pasal 69 dan atau Pasal 83 jo Pasal 68 UU RI No. 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran dan atau pasal 4 dan atau pasal 10 UU RI no 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Ancaman hukum 10 tahun denda 15 milyar dan hukuman singkat 5 tahun -15 tahun denda Rp 150 juta- 600 juta,” katanya.
Beti sendiri enggan berkomentar kepada wartawan.

Komentar