Palembang, Sumselpost.co.id — Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum., menginstruksikan seluruh Polres jajaran memperkuat deteksi dini, pencegahan, mitigasi, dan penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Instruksi tersebut disampaikan menyusul meningkatnya potensi Karhutla akibat kondisi cuaca kering di sejumlah wilayah Sumatera Selatan, Jumat (21/8/2026).
Arahan itu merupakan tindak lanjut evaluasi penanganan Karhutla bersama Wakapolri melalui Zoom Meeting. Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Sumsel menyampaikan berbagai langkah yang telah dilakukan Polda Sumsel bersama TNI, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, serta pemangku kepentingan terkait.
Kapolda menegaskan, penanganan Karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman setelah kebakaran terjadi. Deteksi dini, edukasi masyarakat, mitigasi, kesiapan sarana, serta respons cepat harus dilakukan secara berkelanjutan.
“Memang titik api tidak bisa kita tolak, tetapi bisa kita cegah dan kita mitigasi. Upaya-upaya yang dilaksanakan selama ini sudah berjalan cukup bagus, tinggal dijaga dan ditingkatkan pelaksanaannya,” tegasnya.
Kapolda meminta setiap informasi titik panas yang diperoleh melalui sistem pemantauan, seperti SiPongi maupun Lancang Kuning, segera diteruskan ke command center masing-masing Polres untuk diverifikasi dan ditindaklanjuti tim atau Satgas yang telah dibentuk.
Dalam evaluasi tersebut, sebanyak 31 hotspot terpantau berada di wilayah Sumatera Selatan, dengan konsentrasi antara lain di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Kapolda menekankan agar setiap titik panas segera diverifikasi sehingga potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Langkah konkret apabila ada titik api itu yang perlu kita jadikan tolok ukur. Tim yang sudah dibentuk harus segera merespons dan menindaklanjuti,” ujarnya.
Selain kesiapan personel, Kapolda juga menginstruksikan jajaran untuk mengecek kembali kondisi embung, sekat kanal, sumber air, serta ketersediaan sumur bor yang dapat digunakan untuk mendukung proses pemadaman.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan karena kondisi kekeringan mulai terlihat di sejumlah wilayah. Dalam evaluasi tersebut disebutkan permukaan Sungai Musi mengalami penurunan sekitar dua meter dan Sumatera Selatan telah hampir satu bulan tidak mendapatkan hujan.
Pada tingkat provinsi, penanganan Karhutla dilaksanakan secara terpadu melalui Satgas yang melibatkan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, TNI-Polri dan instansi terkait. Kapolda Sumsel bertindak sebagai Wakil Ketua Satgas, sedangkan Pangdam II/Sriwijaya sebagai Ketua Satgas.
Polda Sumsel juga mendukung upaya mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sebanyak 43 sorti penerbangan telah dilaksanakan.
Dalam dialog bersama Wakapolri, Kapolda turut menyampaikan kebutuhan dukungan lanjutan untuk OMC serta sarana udara guna mempercepat proses verifikasi dan mitigasi, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Wakapolri mengapresiasi langkah Polda Sumsel dalam menangani Karhutla. Pola penanganan yang diterapkan dinilai mencakup upaya pencegahan hingga penanganan secara menyeluruh dari hulu sampai hilir.
Mabes Polri juga akan mengomunikasikan kebutuhan dukungan OMC dan helikopter untuk Sumatera Selatan.
Kapolda selanjutnya memastikan Polda Sumsel siap memberikan dukungan kekuatan kepada satuan kewilayahan yang membutuhkan tambahan personel, terutama apabila muncul titik panas baru yang memerlukan respons cepat.
“Kalau memang ada, kita jangan mundur. Sama-sama kita tindak lanjuti. Jangan pernah lelah untuk tetap berupaya semaksimal mungkin, karena upaya tidak akan menipu hasil,” pesan Kapolda Sumsel.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumatera Selatan Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa penguatan mitigasi menjadi bagian penting dalam menekan risiko Karhutla sekaligus mencegah kebakaran berkembang semakin luas.
“Pencegahan harus dilakukan sejak dini. Setiap informasi hotspot harus segera diverifikasi dan ditindaklanjuti di lapangan. Sinergi seluruh unsur menjadi kunci agar potensi Karhutla dapat ditekan dan dampaknya terhadap masyarakat maupun lingkungan dapat diminimalkan,” tegasnya.
Menurut Nandang, keberhasilan penanganan Karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemadaman, tetapi juga kecepatan mendeteksi potensi kebakaran, kesiapan personel dan sarana, serta koordinasi seluruh unsur sejak munculnya indikasi awal.
Melalui penguatan deteksi dini, kesiapan personel dan sarana pemadaman, pemanfaatan teknologi pemantauan, Operasi Modifikasi Cuaca, serta kolaborasi lintas instansi, Polda Sumsel terus mengoptimalkan penanganan Karhutla secara terpadu.
Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan setiap potensi kebakaran direspons sedini mungkin, sekaligus melindungi masyarakat, lingkungan, dan ekosistem di wilayah Sumatera Selatan.











Komentar