Palembang, Sumselpost.co.id – Upaya mendorong percepatan transisi energi berkeadilan sekaligus penguatan ekonomi hijau kembali mendapatkan angin segar di Sumatera Selatan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop Nilai Ekonomi Karbon dalam Kerangka Transisi Energi Berkeadilan dan Transformasi Ekonomi yang digelar di Fave Hotel Palembang, Kamis (8/1/2026).
Kegiatan ini menghadirkan beragam pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, perusahaan swasta, organisasi non-pemerintah (NGO), akademisi, hingga perwakilan dunia usaha. Workshop ini menjadi ruang diskusi dan pembelajaran bersama terkait peluang, tantangan, serta mekanisme pengembangan proyek karbon sebagai bagian dari solusi menghadapi krisis iklim.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau sekaligus Koordinator Proyek Climate Action Network Indonesia dalam IKI-JET Project, Dicky Edwin Hindarto, menjelaskan bahwa workshop ini dirancang sebagai pelatihan intensif untuk membuka wawasan peserta mengenai besarnya potensi pembangunan proyek-proyek karbon di Sumatera Selatan (Sumsel).
Menurut Dicky, Sumsel sebenarnya sudah memiliki pengalaman awal dalam pengembangan proyek penurunan emisi, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 2 MW pada era kepemimpinan gubernur sebelumnya. Namun, pemahaman terhadap mekanisme pasar karbon dan nilai ekonominya masih belum merata.
“Sebetulnya banyak proyek pengurangan emisi yang bisa dijalankan di Sumsel, mulai dari energi terbarukan, efisiensi energi di sektor industri, perlindungan kawasan hutan, hingga pengembangan mangrove. Namun, masih banyak pihak yang belum memahami bagaimana proyek-proyek ini bekerja dan bagaimana nilai ekonominya bisa dimanfaatkan melalui pasar karbon,” ujar Dicky.
Ia menjelaskan bahwa pasar karbon merupakan salah satu model pembiayaan modern yang kini berkembang secara global. Melalui skema ini, emisi gas rumah kaca yang berhasil dikurangi atau dicegah dapat dikonversi menjadi kredit karbon yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diperjualbelikan layaknya komoditas.
Lebih lanjut, Dicky mencontohkan sejumlah skema pengurangan emisi yang relevan untuk diterapkan di Sumatera Selatan. Di antaranya pengembangan energi surya melalui PLTS, pemanfaatan gas sebagai bahan bakar transportasi seperti yang telah diterapkan di Kota Semarang, serta peningkatan efisiensi energi di pabrik-pabrik karet yang banyak beroperasi di wilayah Sumsel.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa proyek karbon bukanlah kegiatan sederhana berskala rumah tangga. Proyek semacam ini membutuhkan perencanaan matang, dukungan modal, organisasi profesional, keahlian teknis, serta komitmen keberlanjutan jangka panjang agar dapat memenuhi standar dan diakui dalam pasar karbon.
Sementara itu, Ketua Forum CSR Sumsel , Dr Hadi Prayogo, M.I.Kom., dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Ia mengapresiasi kemitraan dengan Yayasan Mitra Hijau yang telah membuka ruang edukasi bagi perusahaan-perusahaan di Sumsel untuk memahami nilai strategis ekonomi karbon.
“Workshop ini sangat penting, tidak hanya bagi Sumsel tetapi juga bagi dunia. Perubahan iklim semakin nyata dan berdampak luas akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca. Karena itu, pelatihan ini menjadi sarana untuk mengajak perusahaan lebih peduli terhadap lingkungan dan berkontribusi nyata dalam penurunan emisi,” ungkap Hadi.
Ia menambahkan, Forum CSR Sumsel merasa terpanggil untuk mengajak para anggotanya, mulai dari BUMN, GAPKI, Aprindo, hingga pelaku usaha lainnya, agar semakin peduli dan aktif dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.
Selain itu Forum CSR juga telah menjalin kolaborasi dengan Bappeda Sumsel, Yayasan Mitra Hijau, Bhakti Persada Masyarakat Sumsel, serta media massa guna memperluas dampak edukasi terkait ekonomi hijau dan nilai ekonomi karbon.













Komentar