Toko Kue Khotimah Adek Manis

Berita Utama1696 Dilihat
banner1080x1080
Palembang, Sumselpost.co.id – Sejak fajar menyingsing, Khotimah telah menata hidupnya seperti adonan kue yang harus pas takarannya. Pagi ia habiskan di toko kecilnya di Kenten, dekat terminal yang tak pernah sepi. Siang hingga malam, ia berpindah ke toko satunya lagi di kawasan Kambang Iwak. Dua toko, dua dunia, dan satu tujuan: masa depan adik-adiknya.

Farhan, adik keduanya, tengah menjalani pendidikan Secaba Polisi Reguler di Betung. Rudi, si bungsu, berkuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Sriwijaya. Khotimah menjadi ibu, ayah, sekaligus kakak bagi mereka sejak orang tua mereka tiada.

Hampir setiap malam, saat kota terlelap, Khotimah bangun mengambil air wudu. Dalam sujud tahajudnya, ia memohon kesehatan, rezeki, dan keberhasilan bagi kedua adiknya. Ia tak pernah menyebut namanya sendiri dalam doa—apalagi soal jodoh.

Waktu berlalu tanpa ia sadari. Lima tahun kemudian, Farhan telah menjadi polisi di Polresta Lubuk Linggau, menikah, dan memiliki seorang anak. Rudi pun lulus dan diangkat menjadi Asisten Dosen di almamaternya. Khotimah tersenyum puas—mimpinya telah selesai.

Namun usianya kini menginjak dua puluh lima tahun. Beberapa lelaki datang melamar, tapi selalu ia tolak. Hatinya seperti pintu toko yang belum siap dibuka.

Hingga suatu siang, rombongan ibu-ibu Dharma Wanita dari Dinas Perhubungan Kota Palembang datang ke toko kuenya di Kenten. Di antara mereka, seorang perempuan bernama Fatma berdiri terpaku di ambang pintu.

Dalam hatinya bergema sebuah nama lama.
Khotimah… adek manis…

Ketika Khotimah menyambut mereka, mata ibu Fatma tak lepas memandang wajah itu—wajah yang dulu dikenalnya sebagai gadis kecil penjual kue keliling.

“Apakah adik ini… Khotimah?” tanyanya ragu.
“Iya, Buk,” jawab Khotimah lirih.

Tanpa sadar, mereka berpelukan. Ibu Fatma teringat masa lalu—setiap pagi menunggu gadis kecil itu sambil berseloroh, “Calon mantuku.” Khotimah pun tersenyum, kenangan itu masih hidup di sudut hatinya.

Sejak hari itu, ibu Fatma kerap menelepon. Menanyakan kabar, adik-adik, hingga status Khotimah. Ia bercerita tentang putra semata wayangnya, Zulkipli, pegawai Bank Sumselbabel yang belum menikah.

Malam itu, sepulang dari toko, telepon kembali berdering.
“Satu jam lagi kami ke rumahmu, ya, Timah.”

Khotimah terkejut, namun menyanggupi. Ia bersiap dengan gugup, memanggil Rudi agar segera pulang. Tak lama kemudian, keluarga ibu Fatma tiba. Maksud mereka jelas: melamar Khotimah untuk Zulkipli.

Dengan tenang, Khotimah meminta waktu sebulan.

Malam itu, ia menelepon Farhan dan berbincang dengan Rudi. Jawaban mereka sama:
“Kakak pantas bahagia.”

Sebulan kemudian, lamaran itu diterima. Akad nikah dilangsungkan pada Jumat, 9 Oktober 2020, di rumah sederhana mereka di Makrayu. Resepsi digelar dua hari setelahnya di Gedung Sultan.

Di antara deretan papan bunga, satu paling mencuri perhatian. Ukurannya besar, tulisannya sederhana namun menggetarkan hati:

“SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU
BAGI PASANGAN
KHOTIMAH, GADIS KECIL PENJUAL KUE
DENGAN
PELANGGAN SETIANYA, ZULKIPLI.”

Khotimah tersenyum.
Ternyata, doa-doa yang tak pernah ia panjatkan untuk dirinya sendiri, telah dijawab dengan cara paling indah.

Oleh : Kms Sofyan

Komentar