Muara Enim Sumselpost.co.id -Sumatera Selatan (Sumsel) adalah salah satu wilayah terkaya di Indonesia dalam urusan sumber daya alam.
Di bawah tanahnya tersimpan batubara Triliunan ton. Minyak bumi mengalir sejak puluhan tahun silam. Gas alam tersebar di berbagai kabupaten. Sungai-sungai besar membelah wilayah sebagai jalur perdagangan dan distribusi ekonomi sejak zaman dahulu. Sawah sawah terbentang luas. Perkebunan karet, kopi, sawit, Karet dan lada menghijaukan Sumatera Selatan.
Kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) berkembang. Perkebunan karet dan sawit terus berproduksi. Perusahaan-perusahaan besar seperti PT Tanjungenim Lestari (PT TeL), MHP, PTPN VII.
Namun di tengah limpahan kekayaan itu, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar dari masyarakat:
Mengapa rakyatnya masih seperti tikus mati di lumbung padi ?
Kalimat itu memang terdengar keras. Tetapi justru di situlah letak ironi besar Sumatera Selatan saat ini. Sebuah daerah yang begitu kaya ternyata belum sepenuhnya mampu menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat yang hidup di atas tanahnya sendiri.
Di satu sisi, kereta batubara bergerak siang dan malam tanpa henti. Tongkang memenuhi Sungai Musi angkut Batubara, Cerobong industri berdiri di berbagai kawasan. Investasi terus masuk. Angka produksi terus meningkat.
Namun di sisi lain, masih banyak masyarakat yang bergulat dengan persoalan dasar: lapangan kerja yang terbatas, harga kebutuhan hidup yang terus naik, ketimpangan pembangunan, kerusakan lingkungan, hingga desa-desa yang belum menikmati fasilitas yang layak.
Pertanyaannya sederhana, tetapi terasa sangat dalam:
Jika tanah ini begitu kaya, mengapa kesejahteraan rakyat masih terasa berjalan lambat ?
Negeri yang Diberkahi Kekayaan Alam
Provinsi dengan ibu kota Palembang ini sejak dahulu dikenal sebagai wilayah strategis. Pada masa Kerajaan Sriwijaya, Sumatera Selatan bahkan pernah menjadi pusat perdagangan dan kekuatan maritim terbesar di Asia Tenggara.
Hari ini, kekuatan alam Sumatera Selatan sebenarnya masih sangat besar.
Muara Enim dikenal sebagai salah satu pusat batubara terbesar nasional. Musi Banyuasin kaya minyak dan gas bumi.
Lahat memiliki cadangan energi besar sekaligus kawasan pertanian dan perkebunan yang luas.
Jika dirinci, kekayaan Sumatera Selatan nyaris seperti daftar lengkap sumber daya alam Indonesia.
Energi dan Pertambangan
Batubara: Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Prabumulih, hingga wilayah OKU dan OKI.
Minyak dan gas bumi: Prabumulih, Muara Enim, Musi Banyuasin, dan Lahat.
Potensi logam dan mineral: emas, kapur, hingga mineral lainnya tersebar di beberapa wilayah pedalaman.
Panas bumi: di Semende Muara Enim kawasan Bukit Barisan di Lahat dan Ogan Komering Ulu Selatan.
Pertanian dan Perkebunan
Sentra padi: Banyuasin, Musi Banyuasin, OKI, hingga Semende Muara Enim.
Kelapa sawit: tersebar di Musi Banyuasin, Banyuasin, PALI, hingga Musi Rawas.
Karet, kopi, dan lada: tumbuh kuat di wilayah Lahat, OKU, OKU Selatan, dan Muara Enim.
Hutan dan Perairan
Kayu, damar, dan rotan terdapat di kawasan hutan pedalaman.
Hutan bakau dan rawa hidup di kawasan pesisir timur Sumatera Selatan.
Sungai Musi, Ogan, Komering, Lematang, dan Enim menjadi sumber kehidupan sekaligus jalur ekonomi masyarakat sejak lama.
Kekayaan yang Terus Keluar
Masalah terbesar Sumatera Selatan sesungguhnya bukan terletak pada kurangnya sumber daya.
Masalahnya justru terletak pada bagaimana kekayaan itu dikelola dan kepada siapa manfaat besarnya benar-benar kembali.
Batubara terus keluar dari Sumatera Selatan setiap hari. Gas diproduksi.
Minyak diangkat dari perut bumi. Kayu ditebang. Sawit dipanen. Tetapi sebagian besar masih bergerak dalam bentuk bahan mentah.
Nilai tambah terbesar justru banyak tercipta di luar daerah. Kalau semuanya ini di Kuasai oleh Negara, berdasarkan pasal 33 UUD 1945, alangkah makmurnya rakyat Sumatera Selatan dan tidak terbebani lagi dengan pajak.
Sumatera Selatan seperti sibuk memproduksi kekayaan, tetapi belum sepenuhnya menikmati hasil terbesar dari kekayaan itu sendiri.
Inilah paradoks yang perlahan dirasakan masyarakat.
Mereka melihat hasil bumi keluar tanpa henti, tetapi kehidupan sebagian rakyat masih berjalan biasa-biasa saja.
Jalan desa masih banyak yang rusak. Anak muda masih kesulitan mencari pekerjaan layak.
Petani bekerja keras tetapi harga hasil panen sering jatuh. Di sekitar kawasan tambang, masyarakat justru terkadang lebih akrab dengan debu dan kerusakan jalan dibanding kemakmuran.
Dari situlah kritik sosial itu lahir.
Bukan karena rakyat membenci pembangunan, tetapi karena masyarakat mulai bertanya: apakah Sumatera Selatan hanya akan menjadi penyedia bahan mentah selamanya ?.
Negeri Energi yang Belum Sepenuhnya Makmu
Sumatera Selatan sebenarnya memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi paling penting di Indonesia.
Cadangan batubara mencapai Triliunan ton
Gas alam tersedia dalam jumlah besar. Jalur kereta api dan pelabuhan sudah tersedia sejak lama. Infrastruktur energi terus berkembang.
Tetapi sejarah di banyak tempat membuktikan satu hal penting: kekayaan alam saja tidak pernah cukup.
Tanpa hilirisasi industri, tanpa pemerataan pembangunan, tanpa pendidikan yang kuat, dan tanpa keberanian membangun ekonomi rakyat, kekayaan alam hanya akan menjadi angka besar dalam laporan — bukan kesejahteraan nyata yang dirasakan masyarakat.
Daerah yang terlalu bergantung pada bahan mentah biasanya hanya menikmati pertumbuhan sesaat. Ketika harga komoditas naik, ekonomi terlihat bergerak.
Tetapi ketika harga turun, rakyat kembali menanggung dampaknya.
Karena itu, Sumatera Selatan membutuhkan lebih dari sekadar investasi tambang.
Yang dibutuhkan adalah keberanian membangun industri pengolahan, memperkuat pendidikan, memperbaiki distribusi ekonomi, dan memastikan masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Sawah Luas, Petani Tetap Berjuang
Ironi Sumatera Selatan bukan hanya terjadi di sektor energi.
Di sektor pangan, provinsi ini juga memiliki potensi luar biasa. Sawah, rawa pasang surut, lahan lebak, hingga perkebunan karet menjadikan Sumatera Selatan salah satu wilayah dengan kekuatan pertanian terbesar di Indonesia.
Namun lagi-lagi, persoalan klasik tetap muncul.
Irigasi di lumbung beras di Semende sudah terbengkalai hasil karya nenek moyang ratusan tahun lalu.
Akses modal petani terbatas. Harga hasil panen tidak selalu stabil. Industri pengolahan hasil pertanian belum berkembang kuat.
Akibatnya, banyak petani bekerja keras tetapi keuntungan terbesar sering kali justru berada di tangan rantai distribusi yang lebih panjang.
Hal yang sama terjadi pada karet rakyat.
Selama ini sebagian besar masih dijual dalam bentuk mentah, padahal jika industri hilir berkembang, nilai ekonominya bisa jauh lebih besar dan mampu membuka lapangan kerja luas.
Pertanyaan Besar untuk Masa Depan Sumsel
Sumatera Selatan sesungguhnya tidak miskin.
Yang menjadi persoalan adalah apakah kekayaan besar itu sudah benar-benar diubah menjadi kemakmuran yang dirasakan luas oleh rakyatnya sendiri.
Karena sejauh ini, masyarakat masih melihat satu kenyataan yang sulit dibantah:
Kekayaan alam Sumatera Selatan begitu besar, tetapi kesejahteraan belum sepenuhnya mengalir merata.
Dan selama pertanyaan itu belum mampu dijawab dengan nyata, ungkapan “tikus mati di lumbung padi” akan terus hidup sebagai kritik sosial yang pahit — tetapi terasa dekat dengan kenyataan yang dirasakan sebagian masyarakat Sumatera Selatan hari ini.(jn.red).
Oleh : Marshal (Penulis, Pengamat Sosial Politik dan Hukum Adat).














Komentar