Palembang, Sumselpost.co.id – Dinas Kebudayaan Kota Palembang dibantu juga OPD terkait bersama komunitas Sanggar Tani Palembang (SATAPA) menguncang Palembang.
Dengan menggelar menari 10 jam non stop bersama 1.000 penari yang dipusatkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Rabu 29 April 2026.
Penari yang melakukan tarian 10 jam non stop yakni Sapta dari Musi Banyuasin (Muba) dan Mita Musi dari Palembang yang melakukan tarian bersama para perwakilan sanggar seni tari lainnya.
Pembina SATAPA, Mirza Indah Dewi mengatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan para penari, tetapi juga bentuk perayaan budaya yang melibatkan banyak pihak.
“Berbagai pihak terlibat di dalam kegiatan ini, khususnya 60 sanggar senin se-Sumsel ikut memeriahkan kegiatan yang diselenggarakan ini,” katanya.
Kegiatan ini sendiri diadakan sebagai peringatan Hari Tari Sedunia yang dilaksanakan secara serentak di berbagai kota, tidak hanya di Palembang.
“Pertunjukan tari 10 jam non stop dari 2 penari tersebut yang merupakan penari berpengalaman dan hasil dari seleksi 10 penari yang ada di Sumsel,” akunya.
Mekanisme menari dalam durasi panjang tersebut penari harus tetap bergerak secara konsisten. “Dalam kondisi apapun kedua penari ini harus tetap menari hingga waktu yang ditentukan hingga pukul 20.00 WIB,” jelasnya.
Kegiatan ini sendiri merupakan hasil study banding yang dilakukan pihaknya di Solo yang menetapkannya selama 24 jam, kemudian ia berpikir untuk menetapkannya di Palembang.
“Kita menetapkannya di Palembang sudah tiga kali dengan durasi waktu berbeda-beda, seperti pada 2018 itu menari selama 6 jam, kemudian pada 2024 selama 8 jam dan ini selama 10 jam menari,” akunya..
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang dijabat oleh Drs. Kgs. H. Sulaiman Amin menuturkan, bahwa membantu Wali Kota dan Wakil Wali Kota mewujudkan Palembang Berdaya Palembang Sejahtera.
“Dimana bapak Wali Kota sangat konsen untuk memajukan Palembang sebagai Kota budaya,” bebernya. Sebagaimana diketahui bahwa Palembang merupakan Kota tertua di Indonesia.
Diketahui bahwa Palembang berusia 1343 dan banyak sekali tradisi-tradisi budaya-budaya yang ditinggalkan yang harus sama-sama di llestarikan dan dikembangkan.
“Contohnya kegiatan yang kita selenggarakan ini tepatnya di halaman museum SMB II, kita tahu musim ini adalah bangunan yang dibangun pada tahun 1823 sampai dengan 1825 jadi memang betul-betul bangunan ini meninggalkan banyak sejarah bagi masyarakat kota Palembang,” ungkapnya.
Sebelum ada bangunan ini juga merupakan Keraton Kesultanan atau Keraton kecil Palembang, tentunya Pemerintah Kota Palembang bekerja sama dengan SATAPA jadi pihaknya ingin untuk menghidupkan kembali tradisi budaya menari yang ada di Kota Palembang.
“Kita ingin supaya masyarakat Palembang tahu bahwa Palembang ini banyak juga ada tarian yang harus dilestarikan, kita sekarang justru agak miris banyak yang tidak sesuai dengan yang diwariskan oleh nenek moyang kita,” bebernya.
Ia berharap semua masyarakat Kota Palembang sama-sama berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Palembang untuk melestarikan tradisi dan budaya Kota Palembang tradisi dan budayanya akan lebih banyak lagi untuk disampaikan kepada masyarakat.
Satapa sendiri adalah Komunitas Sanggar Kota Palembang dan anggota nya sebagian dari luar kota Palembang, para hari ini SATAPA dikukuhkan kepengurusan nya oleh Ketua Dewan Kesenian Sumsel M. Iqbal Rudianto

















Komentar