Selain Palestina-Sudan, Kondisi Minoritas Muslim India Jadi Sorotan BKSAP di Sidang IPU Tanzania

Nasional55 Dilihat
banner1080x1080

JAKARTA,SumselPost.co.id  – Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Syahrul Aidi Maazat, menegaskan pihaknya menyuarakan persoalan Palestina dan Sudan, tetapi juga soal kondisi minoritas Muslim di India dalam banyak forum-forum internasional. Salah satu bukti keberpihakannya adalah saat menyampaikan hal tersebut dalam rangkaian , pada 5–9 Oktober 2026.

Menurut Syahrul Aidi, berbagai laporan lembaga HAM internasional mencatat adanya tindakan diskriminasi, intimidasi, dan kekerasan terhadap komunitas Muslim di India. Hal itu disampaikan Syahrul dalam salah satu rangkaian kegiatan IPU Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC) yang menjadi salah satu agenda Sidang ke-153 Inter-Parliamentary Union (IPU) di Arusha, Tanzania, Senin (6/10/2026) waktu setempat.

“Dalam sejumlah kasus, laporan tersebut juga menyoroti pembongkaran rumah, properti, hingga tempat ibadah. Kondisi seperti ini tidak boleh luput dari perhatian masyarakat internasional,” ujar Syahrul Aidi di Senayan, Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Oleh karena itu, ia mendorong parlemen negara-negara Muslim khususnya melalui forum parlemen dunia untuk menyatakan sikap dan menyerukan kepada Pemerintah India agar sungguh-sungguh menghormati hak asasi manusia, kebebasan beragama, serta hak-hak kelompok minoritas.

“Kita menghormati kedaulatan setiap negara. Namun, pada saat yang sama, penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia adalah nilai universal yang menjadi tanggung jawab bersama,” tandas Politisi Fraksi PKS itu.

Syahrul Aidi menegaskan, tidak boleh ada seseorang yang kehilangan rasa aman hanya karena agama yang dianutnya. Demikian pula, tidak boleh ada masyarakat yang mengalami intimidasi dan diskriminasi hanya karena mereka merupakan kelompok minoritas.

Menurut Anggota Komisi Luar Negeri DPR RI tersebut, persoalan kemanusiaan harus menjadi perhatian bersama parlemen dunia tanpa membedakan latar belakang agama maupun negara. “Palestina harus kita suarakan. Sudan harus kita pedulikan. Dan penderitaan minoritas Muslim di berbagai belahan dunia juga tidak boleh kita abaikan,” tegasnya.

Dari Arusha, Tanzania, Syahrul Aidi menyerukan agar parlemen dunia tidak hanya berbicara mengenai demokrasi dan tata kelola pemerintahan, tetapi juga berdiri teguh dalam memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap hak asasi setiap manusia tanpa diskriminasi. (MM)

Komentar