Ratusan Warga Palembang Bagikan 289 Telok Abang, Desak Penghentian Pembangunan Gedung Tujuh Lantai di BKB

Berita Utama88 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id — Ratusan massa yang tergabung dalam Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB), sejarawan, budayawan, seniman, serta masyarakat Kota Palembang menggelar aksi simbolik dengan membagikan 289 butir telok abang di simpang lima lampu merah dekat Kantor DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (2/1/2026).

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap pembangunan gedung baru tujuh lantai Rumah Sakit dr AK Gani yang berada di kawasan cagar budaya nasional Benteng Kuto Besak (BKB).

Massa mendesak pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk segera menghentikan pembangunan tersebut karena dinilai mengancam kelestarian cagar budaya.

Dalam aksi itu, peserta membagikan telok abang sekaligus selebaran kepada pengendara motor dan mobil yang berhenti di sejumlah titik lampu merah.

Selebaran tersebut berisi ajakan kepada masyarakat untuk ikut menyelamatkan Benteng Kuto Besak sebagai warisan budaya nasional.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Ketua Aliansi Penyelamat BKB sekaligus Ketua AMPCB Vebri Al Lintani, sejarawan Palembang Dr Kemas AR Panji, Spd, MSi, Koordinator Kegiatan Raden Genta Laksana, Kiagus M Fashehulisan, SH, RM Rasyid Tohir, SH, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir (Pembakti Kesultanan Palembang Darussalam), seniman Palembang Ali Goik, Ketua Dewan Kesenian Palembang M Nasir, RA Dimyati, konten kreator Mang Dayat, serta sejumlah kerabat Kesultanan Palembang Darussalam.
Koordinator kegiatan Raden Genta Laksana menjelaskan, angka 289 melambangkan usia Benteng Kuto Besak sejak didirikan hingga saat ini.

“Telok abang juga bermakna sesuatu yang baru, semangat baru. Seperti filosofi telur yang akan menetas, kami menginginkan Benteng Kuto Besak kembali ke masyarakat dan difungsikan sebagaimana mestinya sebagai cagar budaya,” ujarnya.

Sementara itu, Vebri Al Lintani mengatakan, telok abang merupakan simbol tradisi masyarakat Palembang yang biasa digunakan dalam berbagai perayaan, seperti khitanan, pernikahan, hingga peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

“Maknanya adalah kelahiran, produktivitas, dan kemerdekaan. Simbol ini kami gunakan untuk menyentuh emosi masyarakat Palembang agar memahami bahwa Benteng Kuto Besak adalah cagar budaya yang kini terancam akibat pembangunan gedung rumah sakit,” katanya.

Vebri juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keberlangsungan BKB karena pembangunan gedung tujuh lantai tersebut diduga dilakukan tanpa izin yang jelas.

“Kami sudah lama menginginkan Benteng Kuto Besak direvitalisasi, bukan justru dibangun gedung yang berpotensi merusak nilai sejarahnya,” tegasnya.

Menurutnya, aksi ini menjadi momentum penting untuk mensosialisasikan sejarah dan pentingnya penyelamatan Benteng Kuto Besak kepada masyarakat luas.

“Kami memohon dukungan masyarakat agar revitalisasi BKB dapat diwujudkan. Kebijakan ini tidak cukup hanya di tingkat provinsi, tetapi juga perlu perhatian pemerintah pusat, Presiden, Panglima TNI, Kementerian Pertahanan, dan Menteri Kebudayaan,” tambahnya.

Vebri menambahkan, di berbagai daerah lain di Indonesia, benteng-benteng bersejarah umumnya telah dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat sipil untuk kepentingan wisata dan edukasi budaya.

Komentar