Lahan Tidur Disulap Jadi ‘Dapur Hidup’, Guru SMK Negeri 2 Palembang Inovasi Ketahanan Pangan

Berita Utama171 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id- Kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh para pengajar di sebuah SMK di Palembang. Lahan kosong yang sebelumnya tak terpakai, kini bertransformasi menjadi area pertanian produktif yang hijau dan asri. Gerakan ini bukan sekadar bercocok tanam, melainkan bagian dari visi besar sekolah dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

​Ketua Kompetensi Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Daman Huri, S.Kom, menjelaskan bahwa inisiatif ini bermula dari keinginan memanfaatkan tanah kosong di lingkungan sekolah. Meski berlatar belakang teknologi informasi, semangat untuk menghidupkan lahan tidak surut.

​”Kami memanfaatkan tanah tersebut dan merawatnya hingga menghasilkan tanaman rumah tangga seperti cabai, terong, dan tomat. Kurang lebih dua hingga tiga bulan prosesnya, dari tanah kosong hingga panen,” ujar Daman, Senin (19/01).

​Ia berharap hasil panen ini dapat mendukung program sekolah, termasuk potensi integrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Daman juga mengajak seluruh warga sekolah untuk terus mencanangkan program pemanfaatan lahan sebagai motor penggerak sekolah yang produktif.

​Senada dengan hal tersebut, Isropil, S.Pd, selaku Ketua Kompetensi Teknik Sepeda Motor, menekankan pentingnya menanamkan jiwa agraris kepada siswa, meski mereka sedang mendalami bidang teknik.

​”Kita sudah buka lahan ini sejak tiga bulan lalu. Dari bibit yang ada, kita besarkan di sini sampai berbuah. Ini adalah pesan untuk siswa-siswi kita bahwa sebagai negara agraris, potensi alam kita sangat besar dan tidak boleh dilupakan,” tegas Isropil.

​Ke depan, program ini tidak hanya berhenti pada sayuran. Tim pengajar berencana merambah ke tanaman buah-buahan yang memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem, baik curah hujan tinggi maupun panas terik di Palembang.

​Inovasi yang diusung:

1. ​Pemanfaatan Lahan Tidur: Mengubah area non-produktif menjadi sumber pangan.

2. ​Edukasi Multidisiplin: Siswa teknik diajarkan untuk peka terhadap potensi alam.

3. ​Dukungan Program Pemerintah: Menyiapkan kemandirian pangan sekolah guna mendukung program gizi nasional.

​Langkah inspiratif ini membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas atau bengkel, tetapi juga di atas tanah yang kita pijak. Dengan sentuhan kreativitas, lahan sempit pun bisa menjadi sumber kemanfaatan bagi seluruh sekolah.(niken)

Komentar