Komisi IV  DPRD Palembang Akan Bawa Masalah dari Bangunan Lantai Hingga Cagar Budaya BKB Hingga ke DPR RI

Berita Utama111 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id – Tim Penggerak, Aliansi  Penyelamat Benteng Kuto Besak BKB  (AP-BKB) menggelar rapat   dengar pendapat dengan jajaran Komisi IV DPRD Palembang , Selasa (27/1/2026) di ruang Rapat Komisi IV DPRD Palembang .

Hal ini terkait dengan  berdirinya  bangunan 7 lantai  untuk pengembangan  Rumah Sakit dr Ak Gani oleh Kesdam II Sriwijaya  di zona inti Kawasan  BKB.

Rapat di pimpin Wakil Ketua Komisi IV DPRD Palembang Mgs Syaiful Padli didampingi Sekretaris Yustin Kurniawan Zendrato dan anggota Duta Wijaya Sakti, Andri Adam.

Hadir diantaranya  Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo, RM Fauwaz Diradja, SH Mkn,  Koordinator AP-BKB, Vebri Al Lintani, jajaran Ketua tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang Hidayatul Fikri didampingi anggota seperti Ali Goik, Raden Genta Laksana, Isnayanti Syafrida , anggota TACB Kota Palembang Dr Kemas Ari Panji, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Sulaiman Amin, perwakilan BPKAD Palembang, ustad Fatoni, perwakilan zuriat Palembang.

Sejumlah anggota Komisi IV DPRD Palembang ini terkejut lantaran selama ini menyangka kalau BKB adalah peninggalan Kolonial Belanda tapi ternyata buatan Sultan Palembang Darussalam.

Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH MKn,  menegaskan bahwa Benteng Kuto Besak bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol jati diri masyarakat Palembang serta warisan Kesultanan Palembang Darussalam yang berdiri sejak abad ke-18.

Ia menyoroti bahwa kawasan tersebut dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang melarang perubahan atau pembangunan tanpa kajian mendalam dan prosedur perizinan yang ketat.

Sultan menilai pembangunan gedung modern setinggi tujuh lantai di kawasan itu berpotensi merusak nilai historis, visual, dan struktural BKB.

Selain itu, masyarakat Palembang selama bertahun-tahun tidak dapat mengakses area BKB yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui SK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor KM.09/PW.007/MKP/2004, padahal kawasan itu merupakan warisan leluhur yang seharusnya menjadi ruang publik terbuka.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Palembang Mgs Syaiful Padli memastikan jajaran Komisi IV DPRD Sumsel mendukung agar BKB bisa dimiliki masyarakat Palembang.

“ Apa yang diperjuangkan oleh kawan-kawan tim penggerak Aliansi Penyelamat BKB ini adalah perjuangan mulia dan itu adalah perjuangan rakyat , kita sebagai wakil rakyat yang di pilih oleh wakil rakyat , alangkah naifnya jika perjuangan ini tidak di support oleh wakil rakyat , dan perjuangan ini harus  on the track sesuai dengan aturan , maka kami sepakat kita mendorong update dari batas wilayah oleh Kementrian Kebudayaan sehingga betul-betul wilayah ini (BKB) yang dibangun Rumah Sakit dr Ak Gani ini adalah wilayah yang berada dalam Kawasan Benteng Kuto Besak,”katanya.

Komisi IV DPRD Palembang menurut politisi PKS ini bersepakat akan mengawal permasalahan ini sampai ke DPR RI.

“ Dulu waktu ketika saya bersama kak Vebri ini di Komisi V DPRD Sumsel sudah mengawal BKB ini, sekarang kita tetap akan mengawalnya ,”katanya.

Syaiful memastikan akan mengawal masalah ini sampai ke Fraksi PKS di DPRD RI dan terutama Komisi I DPR RI.

Koordinator AP-BKB Vebri Al Lintani mengapresiasi dukungan Komisi IV DPRD Palembang terkait cagar budaya BKB ini yang diperjuangan AP-BKB ini.

“ Mudah-mudahan dukungan ini menjadi  energi kita semua sehingga tujuan kita bisa tercapat, pertama , meninjau ulang dari bangunan  7 lantai itu, kedua, kalau bisa betul-betul revitalisasi BKB sehingga BKB  bisa di manfaatkan  dan difungsikan sebagai cagar budaya seperti di tempat lain,”katanya.

Diakuinya sosialisasi BKB selama ini tidak terangkat termasuk Kesultanan Palembang Darussalam dimana dominan sejarah Sumsel  penuh dengan  Khazanah Sriwijaya.

“ Padahal yang melekat pada denyut nadi kehidupan masyarakat Palembang , denyut nadi masyarakat Sumsel dan denyut nadi masyarakat , denyut nadi  pribadi atau individu-individu baik agamanya , pendangan hidup  adalah Kesultanan Palembang Darussalam dimana sejak merdeka tidak pernah diangkat,”katanya.

Sehingga orang kurang cinta dan tidak tahu  tentang Kesultanan Palembang Darussalam termasuk orang tidak tahu kalau BKB didirikan masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang, Dr Kemas Ari Panji, S.Pd., M.Si, dalam rapat tersebut menegaskan bahwa Benteng Kuto Besak bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol sejarah dan identitas Kesultanan Palembang Darussalam yang memiliki nilai keaslian tinggi.

Menurutnya, sejarah Kesultanan Palembang Darussalam kerap terpinggirkan dalam narasi sejarah nasional. Padahal, BKB merupakan pusat kekuasaan kesultanan yang memiliki peran penting sebelum akhirnya dilemahkan secara hukum dan politik pada masa transisi kekuasaan kolonial dan awal kemerdekaan.

“Benteng Kuto Besak itu bukan sekadar benteng biasa. Ia adalah keraton besar Kesultanan Palembang Darussalam. Nilai ini yang selama ini tidak tersosialisasi dengan baik, sehingga banyak masyarakat mengira BKB hanyalah peninggalan kolonial,” ujarnya.

Ia menekankan, jika dilakukan renovasi atau revitalisasi, maka harus bertujuan memperkuat nilai keaslian dan fungsi budaya, bukan justru menghadirkan bangunan modern yang berpotensi menghilangkan karakter kawasan.

Terkait pembangunan rumah sakit dr Ak Gani,  dia  menilai bahwa fungsi pelayanan kesehatan  penting, namun tidak seharusnya dibangun  di zona inti kawasan cagar budaya BKB.

Ia menyebutkan bahwa pembangunan dapat dialihkan ke lokasi lain tanpa harus mengorbankan nilai sejarah BKB.

“Rumah sakit bisa dibangun di tempat lain, tetapi Benteng Kuto Besak tidak mungkin dibangun ulang. Sekali rusak, nilai sejarahnya akan hilang,” tegasnya.

Lebih jauh, Kemas menyampaikan gagasan menjadikan kawasan Benteng Kuto Besak dan sekitarnya sebagai kawasan kota tua Palembang, serupa dengan konsep Kota Tua Jakarta, yang berorientasi pada pelestarian sejarah, kebudayaan, dan pengembangan pariwisata.

“Ini adalah cita-cita bersama, menjadikan kawasan BKB sebagai pusat kota tua Palembang. Potensinya besar untuk edukasi sejarah, kebudayaan, dan pariwisata,” katanya.

Diakhir rapat di bacakan puisi tentang BKB oleh Karmila

Komentar