SumselPost.co.id. Palembang – Di sebuah sudut kota Palembang, sebuah rumah dengan nuansa merah muda dan putih yang lembut menjadi saksi lahirnya kreativitas tanpa batas. Siapa sangka, berawal dari sekadar memenuhi kebutuhan lomba sekolah sang anak, Sarah Pebfalina M.Pd, Alumni Bahasa dan Sastra Inggris PGRI atau yang akrab disapa Mimi Sarah, Yang Tamatan Sekolah Tunas Bangsa Palembang, kini sukses membangun ekosistem fashion anak yang diperhitungkan di Sumatera Selatan.
Sejak kecil sudah mengikuti berbagai kegiatan, sejak kecil pula pernah mendapatkan beberapa piala lomba bernyanyi, dan di tahun 2011 pernah menjadi Finalis masuk majalah Aneka YESS Indonesia. Sejak SD kelas 5 sampai SMP mengikuti kompetisi cabang Atlet Renang Indah Sumatera Selatan.
Mimi Sarah bukanlah sekadar penyedia jasa sewa baju biasa. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang membuktikan bahwa pernikahan dan gelar pendidikan tinggi bukanlah penghalang untuk terus berkarya. Lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris ini berhasil menyulap hobinya memadupadankan warna menjadi sebuah bisnis yang kini dikenal dengan nama “Mimi Sewa Baju Anak”.
Perjalanan ini dimulai pada akhir tahun 2020. Tanpa rencana bisnis yang muluk, Mimi hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya yang mengikuti lomba di sekolah. Namun, desainnya yang unik justru menarik perhatian para ibu lainnya.
”Awal mulanya nggak terencana, dari mulut ke mulut ibu-ibu. Sampai akhirnya terkumpul beberapa baju dan terus berlanjut. Bahkan sempat viral karena hasil desainnya dianggap punya ciri khas tersendiri,” ujar Sarah kepada awak media.
Nama “Mimi Sarah” sendiri diambil dari panggilan akrab sang buah hati, yang kini ia gunakan juga sebagai nama pena untuk karya-karyanya di Gramedia melalui grup Agromedia.
Meski mencari inspirasi dari internet seperti Pinterest, Sarah menegaskan bahwa setiap jahitan adalah hasil pemikiran pribadinya. Ia menyesuaikan kain dengan karakter fisik anak-anak agar mereka tetap nyaman namun tampil menonjol di panggung.
Koleksinya pun beragam, mulai dari busana kasual hingga modifikasi baju adat seperti Bali, Lampung, Sumatera, hingga Betawi. Baginya, mengenalkan budaya melalui busana adalah sebuah misi penting.
“Kalau bukan kita yang ngenalin ke anak-anak, siapa lagi? Selama ini mereka hanya lihat baju adat di gambar buku. Dengan desain Mimi, mereka bisa memakainya secara riil dan tahu ciri khas budaya kita,” ungkapnya penuh semangat.
Keberhasilan Mimi Sarah tak lepas dari dukungan penuh keluarga, terutama sang suami yang memberikan sokongan dana dan semangat. Menariknya, meski ia kini disibukkan dengan manajemen sewa baju dan menjadi juri di berbagai event fashion besar—seperti Top Model di OPI Mall dan IP—Sarah tetap teguh pada identitasnya sebagai ibu rumah tangga yang ingin mandiri.
”Perempuan yang sudah menikah bukan berarti nggak bisa berkarier lagi. Jangan pernah berkecil hati dan merasa mimpi pupus setelah menikah. Selagi kita punya skill dan kemauan, manfaatkanlah. Semangat!” pesan Sarah untuk para perempuan di luar sana.
Meski saat ini bisnisnya dijalankan secara mandiri tanpa dukungan dana atau promosi dari pemerintah setempat, Sarah punya mimpi besar. Ia berharap suatu saat nanti karya desainer asal Palembang ini bisa melenggang di panggung internasional.
”Harapannya, pemerintah bisa melihat hasil karya anak daerah. Mudah-mudahan nama Palembang bisa dibawa ke luar negeri melalui desain baju adat dan kasual kita. Saya ingin membuktikan bahwa dari rumah saja, kita bisa menciptakan sesuatu yang dicintai oleh banyak orang,” tutupnya.
Bagi Mimi Sarah, setiap potong baju yang ia sewakan bukan sekadar kain yang menempel di badan, melainkan dukungan untuk bakat dan kepercayaan diri anak-anak Palembang agar terus berprestasi.
Bagi yang ingin melihat aktivitas langsung follow Instagram: ” mimie sewa baju anak Palembang”. ( Ocha)












Komentar