Ki Edi Susilo : Seni Menikmati “Siput” dalam Kehidupan: Mengapa Pelan Itu Paten

Nasional, Sumsel419 Dilihat
banner1080x1080

SumselPost.co.id. ​Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula

​Hari Minggu adalah hari di mana jam dinding seolah-olah ikutan mager. Namun, di era “instan-isme” ini, banyak dari kita yang merasa berdosa kalau tidak berlari. Kita merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain sudah sampai di garis finish atau setidaknya begitu yang terlihat di postingan FB, Instagram ataupun Tiktok. Padahal, kawan, hidup bukan sekadar balapan lari 100 meter; hidup lebih mirip ritual menyeduh kopi tubruk yang butuh waktu agar ampasnya turun dengan tenang.

​Rahasia Ilmiah di Balik “Alon-Alon Asal Kelakon”

​Secara sains, ketergesaan itu memicu hormon Kortisol. Kalau hormon stres ini terus-terusan “banjir” di tubuh, otak kita bukan makin pintar, malah makin hang. Sebaliknya, saat kita melambat dan bersabar, seperti yang dipetik dari nasihat Rumi tubuh kita masuk ke fase rest and digest.

​Secara biologis, ada proses yang namanya Autofagi. Ini adalah cara sel tubuh melakukan “bersih-bersih” mandiri. Menariknya, proses ini bekerja maksimal justru saat kita memberikan jeda (seperti saat puasa atau beristirahat). Jadi, secara ilmiah, mereka yang tahu kapan harus berhenti sejenak sebenarnya sedang memperpanjang usia selnya. Jadi, kalau ada yang bilang kamu lamban, bilang saja: “Aku tidak lamban, aku sedang optimalisasi seluler.”

​Belajar dari Kereta Kencana dan Kepompong

​Jika kita menengok jagad pewayangan, ingatlah sosok Raden Werkudara. Beliau bukan tipe ksatria yang grusa-grusu meski tubuhnya gagah perkasa. Saat mencari Banyu Perwitasari, ia harus menceburkan diri ke samudra luas, melambat dalam keheningan dasar laut, hingga akhirnya bertemu Dewa Ruci. Di sana, Werkudara tidak sedang “balapan”, ia sedang “jeda” untuk memahami jati diri. Tanpa kesabaran menyelam sedalam itu, ia takkan mendapatkan pencerahan sejati.

​Secara fenomena alam, mari kita lirik nasib seekor ulat. Secara biologis, ada fase bernama Metamorfosis. Di dalam kepompong, sang ulat tidak sedang tidur siang malas-malasan. Secara molekuler, terjadi perombakan besar-besaran yang disebut histolisis.

Sel-sel ulat hancur untuk disusun kembali menjadi struktur sayap yang indah. Bayangkan jika ulat itu tidak sabar dan memaksa keluar sebelum waktunya karena iri melihat belalang yang sudah lompat sana-sini. Alih-alih jadi kupu-kupu, ia malah berakhir jadi bubur organik yang gagal.

Kedaulatan Diri: Falsafah Bangsa dalam Jeda

​Di sinilah letak falsafah bangsa kita. Indonesia berdiri bukan dari hasil “instan semalam”, melainkan melalui proses tirakat panjang para pendiri bangsa. Bung Karno pernah berpesan tentang Berdikari. Berdiri di Atas Kaki Sendiri. Berdikari itu butuh fondasi, bukan sekadar gaya-gayaan lari.

​Melambat sejenak adalah cara kita mengamalkan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” terhadap diri sendiri.

Adil berarti memberikan hak kepada tubuh untuk beristirahat, dan beradab berarti menghargai proses pertumbuhan yang sudah digariskan Tuhan. Seperti Padi dalam lambang negara kita; ia merunduk saat berisi, dan ia butuh waktu berbulan-bulan terendam lumpur sebelum akhirnya menjadi butiran nasi yang menghidupi. Tak ada petani yang menarik batang padi agar cepat tinggi, karena itu justru akan mematikannya.

​Matang di Pohon

​Ingat hukum pematangan buah? Buah yang dipaksa matang dengan karbit “etilen dosis tinggi” mungkin warnanya kuning cantik, tapi rasanya? Sepet dan hambar. Begitu juga dengan pencapaian manusia. Kesabaran adalah biokatalisator alami. Ia memastikan “kandungan gula” dalam karakter kita terbentuk dengan sempurna sebelum akhirnya kita dipetik oleh takdir.

​Berjalan pelan bukan berarti mandeg. Ibarat mobil yang masuk gigi rendah saat menanjak; kecepatannya turun, tapi torsinya (kekuatannya) justru maksimal. Kita butuh torsi yang besar untuk melewati ujian hidup yang terjal, bukan sekadar kecepatan tinggi yang bikin mesin cepat panas lalu ngebul.

​Maka, di hari Minggu yang cerah ini, mari kita rayakan setiap langkah kecil. Jangan merasa tertinggal hanya karena tetangga sudah beli mobil baru sementara kita masih asyik merawat tanaman cabai di teras. Siapa tahu, cabai kita lebih pedas dan bikin hidup lebih berwarna.

​Percayalah, waktu tidak pernah salah hitung. Seperti kata pepatah klasik, “Gusti paring dalan kanggo wong sing gelem sabar.” Semesta punya laboratoriumnya sendiri untuk meracik kebahagiaanmu.

Selamat berakhir pekan, selamat beristirahat, dan jangan lupa bahagia, karena bahagia itu hak segala bangsa, termasuk kamu yang sedang berjuang dalam diam.( Opini)

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar