Khotimah, Gadis Penjual Kue

Berita Utama412 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.idn- Sejak usianya baru lima tahun, hidup Khotimah telah dirundung duka. Ayahnya pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan ia dan ibunya dalam kesunyian yang panjang. Sejak hari itu, Khotimah kecil tumbuh bersama ibunya, belajar mengenal arti hidup jauh lebih cepat dari anak-anak seusianya.

Demi menyambung hidup, Khotimah berjualan kue keliling. Setiap pagi buta, saat langit masih berselimut gelap, ia telah berjalan dari Kampung Tatang hingga Kampung Suro. Di dalam bakul kecilnya tersimpan beragam kue tradisional: lumpang, gandus, talam, apem, hingga bolu beluder yang harum. Kue-kue itu ia ambil dari Kebon Gede sejak pukul lima subuh. Pukul delapan, kadang hingga sembilan pagi, barulah ia pulang. Dari jerih payahnya itu, Khotimah memperoleh upah antara tiga puluh hingga lima puluh ribu rupiah setiap hari—uang yang menjadi penopang hidup keluarganya.

Namanya Khotimah. Orang-orang memanggilnya Dek Tima. Ada pula yang menjulukinya Dek Cantik, bahkan dengan canda menyebutnya “mantuku”.
Khotimah memang cantik. Kulitnya putih bersih, senyumnya selalu ramah. Setiap pagi kehadirannya dinanti, terutama oleh para ibu yang memiliki anak laki-laki. Mereka sering berbisik sambil tersenyum, berharap suatu hari kelak Khotimah menjadi menantu mereka.

Di rumah, Khotimah memikul beban yang tak ringan. Ibunya menderita asma menahun, sementara dua adiknya masih sangat kecil—masing-masing berusia tiga dan dua tahun. Meski begitu, tak pernah sekali pun Khotimah mengeluh. Ia menjalani semuanya dengan sabar, seolah air matanya telah ia simpan jauh di dalam dada.

Ketika Khotimah berusia sepuluh tahun, cobaan terberat itu datang. Ibunya meninggal dunia. Dunia terasa gelap, seakan cahaya hidup padam seketika. Namun Khotimah cepat menghapus air matanya. Ia tahu, dua pasang mata kecil menatapnya penuh harap. Sejak hari itu, ia berjanji pada dirinya sendiri: adik-adiknya tak boleh putus sekolah.

Adik keduanya bernama Farhan, dan si bungsu bernama Rudi. Tahun-tahun berlalu dengan peluh dan doa. Khotimah bekerja lebih keras, menabung, dan terus berdiri meski letih sering merobohkan tubuhnya.
Waktu berjalan. Gadis kecil penjual kue itu kini telah berusia dua puluh tahun.

Khotimah tumbuh menjadi gadis cantik jelita. Ia tak lagi berjualan keliling. Di dekat Kambang Iwak, ia membuka sebuah toko kue kecil. Usahanya berkembang pesat. Kue-kue buatannya dikenal lembut, harum, dan lezat. Ia menamai tokonya “Khotimah Adek Manis”, nama yang dulu sering disematkan orang-orang saat ia masih menjajakan kue di pagi hari.

Kebahagiaan terbesar datang ketika Farhan lulus SMA dan mendaftar sebagai calon bintara Kepolisian Republik Indonesia. Saat kabar kelulusan itu tiba, Khotimah bersujud syukur. Dalam sujudnya, air mata mengalir tanpa bisa ia bendung.

“Kak Khotimah,” ujar Farhan sambil menahan haru, “Farhan lulus dan diterima menjadi anggota Polri. Terima kasih, Kak. Kakak telah berjuang untuk kami semua.”
Khotimah memeluk adiknya erat-erat.

“Alhamdulillah, adikku. Kau sungguh-sungguh menuntut ilmu. Kakaklah yang berterima kasih pada kalian,” ucapnya lirih.
Setahun kemudian, kebahagiaan itu kembali mengetuk pintu. Rudi, si bungsu, lulus STM dan diterima di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Untuk kedua kalinya, Khotimah bersujud syukur. Dalam doanya ia berbisik,

“Ya Allah, hamba bersyukur kepada-Mu. Engkau telah mengabulkan harapan hamba.”

Usaha toko kue “Khotimah Adek Manis” kian maju. Cabang baru dibuka di daerah Kenten. Di balik senyum bahagianya, Khotimah sering terdiam, membayangkan seandainya kedua orang tuanya masih hidup—betapa bahagianya mereka melihat semua ini.

Kini, Khotimah hanya menanti seseorang.
Seseorang yang kelak memahami luka, perjuangan, dan keteguhan hatinya.
Tangga Buntung, 21 Oktober 2020.
(Kms. Sofyan Abdullah)

 

Karya: Kms. Sofyan Abdullah

Komentar