Khidmat, Puluhan Ribu Nahdliyin Padati Senayan, Prabowo Batal Hadiri Harlah Ke-100 Tahun NU, Ketum PBNU: Ada Tugas Lain

Nasional119 Dilihat
banner1080x1080

JAKARTA,SumselPost.co.id – Puluhan ribu warga NU padati Istora Senayan Jakarta, meski Presiden RI Prabowo Subianto batal menghadiri acara Harlah ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2025) itu. Ketua Umum (Ketum) Yahya Cholil Staquf mengungkapkan, PBNU sejak kemarin sudah melakukan koordinasi dengan pihak Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) serta protokol Istana.

“Sejak kemarin sudah dilakukan, hal-hal teknis yang memang diperlukan, untuk kehadiran beliau,” tegas Gus Yahya seusai acara. Prabowo batal datang ke Harlah NU 2026 ini karena ada tugas lain yang harus dikerjakan.

Selain itu, Prabowo juga akan menerima beberapa tamu sehingga berhalangan hadir. “Tapi memang pada saat terakhir, beliau mungkin berhalangan karena ada tugas lain ya. Kami mendengar juga ada beberapa tugas negara terkait dengan tamu-tamu negara yang hadir pada hari ini,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Harlah ke-100 NU akan dihadiri Presiden Prabowo dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih. Sedangkan beberapa menteri yang hadir di antaranya Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menko PMK Pratikno, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, dan sejumlah tokoh istri Presiden ke-4 RI Sinta Nuriyah Wahid dan Yenny Wahid, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan B Najamudin, Ketua KPU Mochammad Afifuddin, dan Ketua Bawaslu Rahmat Bagja.

Dari partai politik hadir sejumlah tokoh di antaranya Ketum PPP Mardiono, Presiden PKS Al Muzzamil Yusuf, Sekjen Partai Golkar Sarmuji dan lain lain.

Gus Yahya mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Masehi ini. Bahwa peringatan satu abad NU berlangsung setelah melalui berbagai dinamika yang panjang dan hebat, baik secara alamiah maupun organisatoris.

“Setelah didahului hujan lebat pagi ini, dan didahului dengan dinamika yang tidak kalah hebatnya, hari ini kita rayakan dan peringati Harlah ke-100 tahun Masehi sebagai Nahdlatul Ulama yang satu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tema Harlah ke-100 NU, Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia, mencerminkan konsistensi NU dalam menegakkan visi dan idealisme kebangsaan. “Kenapa mengawal Indonesia merdeka? Karena visi dan idealisme Nahdlatul Ulama sama dan sebangun dengan visi dan idealisme Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,” kata Gus Yahya.

Menurutnya, visi dan idealisme NU sejak awal adalah berjuang membangun peradaban yang lebih mulia bagi seluruh umat manusia. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Cita-cita itu juga menegaskan peran Indonesia untuk ikut serta mewujudkan ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,” tambahnya.

“Semua itu merupakan bagian dari rumusan visi dan idealisme yang diperjuangkan NU dan kemudian dimanifestasikan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

Sebelumnya, Rais Syuriyah PBNU KH Nasaruddin Umar menggambarkan NU sebagai keluarga besar yang hidup dengan dinamika, tetapi tetap terikat dalam satu ikatan kebersamaan. Menurutnya, NU memiliki daya inklusif yang memungkinkan siapa pun merasa menjadi bagian dari rumah besar tersebut. “NU ini seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dinamika, tetapi tetap satu keluarga. Tidak ada orang lain, karena orang lain pun bisa menjadi orang dalam,” ujarnya. (MM)

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar