Ketika Alam Memberi Peringatan, Manusia Perlu Bercermin

Berita Utama125 Dilihat
banner1080x1080

Muara Enim Sumselpost.co.id -Ada ayat Al-Qur’an yang sangat kuat untuk direnungkan ketika manusia menyaksikan berbagai persoalan lingkungan dan bencana yang terjadi di bumi.

Allah SWT berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

QS. Ar-Rum: 41 Ayat ini seharusnya membuat manusia berhenti sejenak.

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa seluruh bencana alam semata-mata disebabkan oleh dosa manusia. Karena itu, ayat ini tidak tepat digunakan untuk menghakimi korban erupsi, gempa, banjir, atau bencana lainnya sebagai orang-orang yang sedang menerima hukuman.

Namun ayat tersebut memberikan sebuah peringatan yang sangat jelas tentang kerusakan yang muncul akibat perbuatan manusia.

Keserakahan. Eksploitasi yang tidak terkendali. Perusakan hutan. Pencemaran sungai dan laut. Pengelolaan lingkungan yang buruk. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam.

Semua itu merupakan bentuk tanggung jawab manusia yang tidak boleh diabaikan.

Yang lebih menarik, ayat tersebut ditutup dengan kalimat:

“…agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Inilah titik pentingnya.

Bencana seharusnya tidak hanya melahirkan ketakutan, tetapi juga kesadaran. Ketika alam memperlihatkan akibat dari kerusakan yang dilakukan manusia, yang dituntut bukan sekadar rasa takut, melainkan perubahan.

Kembali menjaga bumi. Kembali menghormati alam. Kembali menjalankan amanah.bKembali kepada keseimbangan.

Dan, yang paling utama, kembali kepada Allah SWT.

Al-Qur’an menggunakan kata “bi mā kasabat aidin-nās”—disebabkan oleh apa yang dilakukan tangan manusia. Ungkapan ini mengandung peringatan bahwa manusia memiliki kontribusi terhadap sebagian kerusakan yang terjadi di bumi.

Tetapi kita juga harus memahami batasnya.

Erupsi gunung api adalah fenomena geologi yang memiliki mekanisme alamiah. Tidak setiap letusan dapat dikatakan sebagai akibat langsung kerusakan lingkungan oleh manusia.

Karena itu, sikap seorang Muslim harus berada di tengah: tidak menyangkal hukum alam dan ilmu pengetahuan, tetapi juga tidak kehilangan pelajaran spiritual dari setiap kejadian.

Ilmu menjelaskan bagaimana gunung meletus.

Iman mengajak manusia bertanya apa yang harus kita pelajari dari kejadian itu.

Di situlah ilmu dan iman tidak perlu dipertentangkan.

Justru keduanya dapat berjalan bersama.

Gunung dipantau oleh para ahli. Masyarakat mengikuti peringatan keselamatan.  Pemerintah menjalankan mitigasi.

Relawan membantu korban. Dan manusia melakukan muhasabah. Sebab mungkin pesan terbesar dari QS. Ar-Rum ayat 41 bukan sekadar tentang kerusakan bumi.

Pesannya adalah:

Manusia harus berhenti merasa bahwa bumi hanya miliknya untuk dieksploitasi.

Bumi adalah amanah.

Alam adalah ciptaan Allah.

Dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang berada di tangannya.

Maka ketika gunung bergemuruh, jangan hanya bertanya kapan letusan akan berhenti.

Tanyakan pula:

Sudahkah tangan manusia berhenti merusak?

Sudahkah keserakahan dihentikan?

Sudahkah hutan dijaga?

Sudahkah sungai dipelihara?

Sudahkah laut dihormati?

Sudahkah pembangunan memperhitungkan keselamatan manusia dan kelestarian alam?

Dan yang paling penting:

Sudahkah kita kembali kepada jalan yang benar?

Sebab Al-Qur’an sendiri telah memberikan jawabannya:

“…agar mereka kembali.”

Kembali kepada Allah.

Kembali kepada amanah.

Kembali kepada keseimbangan.

Dan kembali menjadi manusia yang tidak hanya mampu menaklukkan alam dengan teknologi, tetapi juga mampu menaklukkan keserakahan dalam dirinya sendiri.(jn.red).

 

Oleh : Marshal ( Pengamat Sosial Budaya dan ke Agamaan )

 

Komentar