Muara Enim, Sumselpost.co.id—
Di perbukitan aliran Sungai Enim, tepatnya di lembah Pegunungan Tumutan Tujuh Bukit Barisan, wilayah Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, terbentang areal perkebunan kopi yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Tenang Waras. Selain menjadi sumber penghidupan warga, kawasan ini juga menyimpan kisah pilu tentang hilangnya seorang perempuan hamil yang hingga kini tak pernah ditemukan.
Peristiwa tersebut terjadi beberapa tahun silam. Seorang perempuan dalam kondisi hamil tua tinggal bersama suaminya, Baitul, warga Kecamatan Tanjung Agung, di sebuah dangau atau pondok sederhana di kawasan Talang Pisang, tengah kebun kopi Tenang Waras.
Pada suatu malam sekitar pukul 03.00 WIB, perempuan tersebut terbangun dan keluar dari dangau. Awalnya, hal itu tidak menimbulkan kecurigaan, karena di kawasan kebun, keluar malam hari untuk keperluan buang air kecil merupakan hal yang biasa. Namun kejanggalan mulai dirasakan ketika air di sambang, yakni saluran bambu penampung air, diketahui mengalir hingga habis, sementara hingga pagi menjelang siang, korban tak kunjung kembali.
Pencarian pun segera dilakukan oleh suami korban, keluarga, penulis, bersama adiknya Drs. Alimudin, serta warga sekitar. Mereka menyisir area perkebunan, lembah, hingga jalur menuju kawasan hutan selama beberapa hari. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Tidak ditemukan pakaian, tanda-tanda perlawanan, maupun jejak terjatuh.
Satu-satunya temuan yang tercatat adalah jejak kaki menyerupai tapak harimau, namun hanya sebelah, di sekitar dangau yang mengarah ke rimba, lalu menghilang tanpa kesinambungan yang dapat dijelaskan.
Kondisi geografis wilayah Semende yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan Bukit Barisan membuat kemungkinan keberadaan satwa liar tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan. Namun, sebagian warga juga mengaitkan peristiwa ini dengan cerita-cerita lama yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat Semende, salah satunya tentang maksumai, makhluk dalam kepercayaan lokal yang dipercaya mampu menyerupai manusia dan mengajak seseorang pergi tanpa meninggalkan jejak.
Dalam perspektif budaya, kisah-kisah tersebut tidak selalu dipahami secara harfiah, melainkan sebagai bagian dari sistem nilai adat yang menegaskan pentingnya kehati-hatian, penghormatan terhadap alam, serta kepatuhan terhadap aturan tak tertulis dalam kehidupan di wilayah kebun dan hutan.
Hingga kini, perempuan hamil tersebut tidak pernah ditemukan, dan tidak ada kesimpulan resmi yang mampu memberikan kepastian. Ketiadaan jawaban inilah yang membuat kisah Tenang Waras terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, diwariskan dari generasi ke generasi, bukan sebagai sensasi, melainkan sebagai pengingat akan hubungan manusia dengan alam.
Bagi masyarakat Semende, Tenang Waras bukan sekadar kebun kopi, melainkan ruang pengalaman sosial dan budaya, tempat nilai-nilai kehati-hatian, rasa hormat, serta kesadaran akan batas relasi manusia dan alam terus dijaga.
Oleh: Marshal
(Pengamat Sosial Budaya dan Hukum Adat)
(jn/red)













Komentar