Gas Kimia “Teror” Warga Cilegon, Komisi XII DPR Minta Penanganan Cepat dan Terukur

Nasional203 Dilihat
banner1080x1080

JAKARTA,SumselPost.co.id – Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, mendesak penanganan cepat, tepat, dan akurat atas insiden kebocoran gas di kilang PT Vopak Indonesia, Cilegon, Banten, yang telah menyebabkan puluhan warga terpapar gas kimia berbahaya.

Ratna menegaskan, peristiwa kebocoran gas yang terjadi di lingkungan Kalibaru, Kelurahan Gerem, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, pada Sabtu (31/1/2026), bukan insiden sepele. Sebanyak 46 warga, mulai dari anak-anak hingga lansia, harus dilarikan ke puskesmas setelah menghirup asap berwarna kuning pekat yang membubung dari area pabrik.

“Ini sangat mengkhawatirkan. Keselamatan karyawan, warga sekitar, hingga wisatawan harus menjadi prioritas utama. Apalagi lokasi ini tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Anyer. Negara tidak boleh lamban dalam situasi seperti ini,” tegas Ratna, Minggu (1/2/2026).

Para korban dilaporkan mengalami gejala serius, seperti sesak napas, pusing hebat, mual, dan muntah-muntah, yang mengindikasikan paparan gas kimia berbahaya. Kepanikan pun melanda warga sekitar karena bau menyengat dan asap tebal yang menyebar cepat.

Berdasarkan data sementara, insiden diduga bermula saat perusahaan melakukan pembersihan pipa menuju kotak EBC (kempu) di dekat tangki nomor TK 0638. Sisa base oil di dalam pipa diduga bereaksi dengan sisa bahan kimia yang masih mengendap di dalam kempu, sehingga memicu pelepasan gas beracun.

Karena itu, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta agar penanganan medis terhadap seluruh korban dilakukan maksimal, tanpa terkecuali. Pemerintah dan instansi terkait menurutnya perlu segera melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan penyebab kebocoran.

Ia mendesak PT Vopak bertindak transparan dan bertanggung jawab penuh atas dampak yang ditimbulkan. Lebih dari itu, ia mendorong audit keselamatan dan lingkungan untuk mencegah kejadian serupa terulang.

“Jangan sampai kepentingan industri mengorbankan keselamatan rakyat. Ini harus menjadi peringatan keras bagi seluruh industri berisiko tinggi di Indonesia,” pungkasnya. (MM)

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar