Gandeng ABII, DNIKS Dorong Biochar-Juncao Grass Solusi Pulihkan Pascabencana Sumatera

Nasional81 Dilihat
banner1080x1080

JAKARTA,SumselPost.co.id – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Asosiasi Biochar Internasional Indonesia (ABII) untuk mengolah limbah kayu eks bencana banjir di Sumatera, khususnya Aceh. Langkah pengolahan limbah itu menjadi biochar yang bermanfaat bagi pemulihan kesehatan tanah, ekosistem, serta peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat terdampak bencana.

MoU tersebut ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum DNIKS, Rudi Andries, dan Executive Director ABII, Phil Rickard, di Jakarta, Rabu, (21/1/ 2026). Kerja sama ini merupakan langkah awal dari pengembangan solusi pemulihan hijau pascabencana yang lebih terpadu, berkelanjutan, dan berbasis masyarakat, dengan mengombinasikan biochar dan Juncao Grass sebagai instrumen utama rehabilitasi lingkungan dan pemulihan ekonomi lokal. “Pengolahan limbah kayu pascabencana menjadi biochar bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal keadilan sosial dan pemulihan martabat masyarakat terdampak. Ini adalah upaya mengubah sisa bencana menjadi sumber pemulihan,” kata Rudi Andries, Wakil Ketua Umum DNIKS.

Biochar dan Juncao Grass untuk Pemulihan Terpadu

Dalam kesepakatan tersebut, kata Rudi, bahwa DNIKS dan ABII sepakat untuk mengolah limbah kayu hasil banjir menjadi biochar yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, menekan degradasi lahan, serta mendukung pemulihan ekosistem di wilayah terdampak.

Langkah ini akan dibarengi dengan penciptaan lahan produktif berbasis Juncao Grass, yang digunakan sebagai tanaman awal (pioneer species) dalam proses rehabilitasi lahan pasca bencana.

Juncao Grass dikenal sebagai tanaman biomassa yang tumbuh cepat, adaptif di lahan rusak, serta memiliki manfaat ganda bagi pangan, pakan ternak, dan energi. “Kombinasi biochar dan Juncao Grass tersebut dirancang sebagai satu kesatuan pendekatan dalam skema Biochar–Juncao Grass Complex, yang diharapkan mampu memberikan dampak ekologis sekaligus sosial-ekonomi dalam waktu relatif cepat,” jelasnya lagi.

Usulan Program Pemulihan Hijau Nasional

DNIKS dan ABII juga sepakat untuk mengusulkan kepada Presiden Prabowo Subianto penerapan Biochar–Juncao Grass Complex sebagai bagian penting dari Program Pemulihan Hijau Pascabencana Banjir di Sumatera, khususnya di wilayah Aceh dan daerah lain yang terdampak banjir besar.

Melalui pendekatan ini, Biochar dan Juncao Grass diposisikan sebagai instrumen strategis untuk:

. Mengamankan wilayah pascabencana dari degradasi berulang, erosi, dan potensi konflik sosial.
. Menyerap tenaga kerja masyarakat korban bencana secara cepat, produktif, dan bermartabat.
. Membangun cadangan strategis biomassa nasional yang mendukung ketahanan energi, pangan, dan pengelolaan karbon.
. Mengakhiri pola bantuan habis pakai, dengan menggantikannya menjadi aset produktif yang dikelola dan dimiliki oleh masyarakat.

“Pendekatan ini sejalan dengan arah pembangunan berkelanjutan dan transisi hijau, namun tetap berpijak pada kebutuhan riil masyarakat di lapangan. Negara hadir bukan hanya memberi bantuan, tetapi membangun fondasi ekonomi yang bertahan lama,” ujar Rudi.

Prinsip Cepat, Terukur, dan Berdaulat

Program Biochar–Juncao Grass Complex dirancang untuk dijalankan dengan prinsip cepat, terukur, disiplin, dan berdaulat, dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, didukung oleh pemerintah, asosiasi profesi, serta pemangku kepentingan terkait.
“DNIKS menilai, pendekatan ini dapat menjadi model nasional dalam penanganan pascabencana yang tidak hanya fokus pada rehabilitasi fisik, tetapi juga membangun ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan secara simultan,” pungkas Rudi. (MM)

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar