Fenomena Banalitas Pertemanan di Tengah Kehidupan Sosial Modern

Berita Utama292 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpos.co.id – .Fenomena pertemanan yang bersifat sementara dan sarat kepentingan menjadi realitas yang kian terasa dalam kehidupan sosial masyarakat saat ini. Di tengah budaya berkumpul, nongkrong, dan membangun jejaring sosial, banyak hubungan pertemanan dinilai hanya bertahan selama kepentingan bersama masih berjalan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ki Edi Susilo, penulis dan pemerhati dinamika sosial, melalui refleksi sosial bertajuk Banalitas Perkawanan. Menurutnya, kebersamaan yang tampak akrab di ruang-ruang publik seperti warung kopi sering kali menyimpan kenyataan pahit, yakni pertemanan yang rapuh ketika salah satu pihak kehilangan posisi, pengaruh, atau keuntungan sosial.

“Banyak orang merasa kaya karena dikelilingi teman, padahal belum tentu mereka akan tetap hadir ketika seseorang berada dalam kondisi terpuruk atau kehilangan daya tawar sosial,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep “tiada” tidak hanya dimaknai sebagai kematian secara fisik, tetapi juga kondisi saat seseorang kehilangan jabatan, kekuasaan, harta, maupun reputasi. Pada fase inilah, kata dia, kualitas pertemanan sesungguhnya diuji.
Secara psikologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori reciprocal altruism atau altruisme timbal balik, di mana hubungan sosial terbentuk atas dasar saling memberi keuntungan.

Ketika keuntungan itu hilang, relasi pun perlahan memudar.
Namun demikian, Ki Edi menegaskan bahwa manusia memiliki kapasitas moral yang melampaui insting biologis. Pertemanan yang tetap bertahan tanpa pamrih disebutnya sebagai bentuk kesetiaan sejati, yang lahir dari nilai kemanusiaan, empati, dan makna, bukan semata-mata kepentingan.

Ia mencontohkan kisah Hachiko di Jepang serta legenda Damon dan Pythias sebagai simbol kesetiaan yang tidak menuntut imbalan. Dalam kajian sosiologi, bentuk kesetiaan semacam ini dikenal sebagai costly signaling, yakni sinyal kejujuran yang sulit dipalsukan karena menuntut pengorbanan nyata.

“Menjadi teman saat senang itu mudah. Namun, tetap setia saat seseorang berada dalam kesunyian adalah sikap yang membutuhkan keberanian dan integritas,” katanya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk merefleksikan kembali makna pertemanan. Menurutnya, bukan banyaknya orang yang hadir dalam keramaian yang menjadi ukuran, melainkan siapa yang tetap menjaga nama dan martabat seseorang ketika ia sudah tidak lagi memiliki apa-apa.
Fenomena banalitas pertemanan, lanjutnya, akan runtuh dengan sendirinya jika kesetiaan dan ketulusan dijadikan fondasi utama dalam membangun hubungan antarmanusia.

Komentar