Dzikir Ratib Saman Sambut Ramadan, Zuriat Kesultanan dan Masyarakat Palembang Ajak Penyelamatan Benteng Kuto Besak

Berita Utama93 Dilihat
banner1080x1080

Palembang,Sumselpost.co.id – Ratusan orang yang tergabung dalam Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Aliansi Penyelamat Benteng Kuto Besak (BKB), Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB), sejarawan, budayawan, serta masyarakat Palembang menggelar Dzikir Ratib Saman bersama dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 H.

Kegiatan tersebut juga sekaligus memperingati hari diresmikannya Kuto Kraton Besak pada 23 Februari 1790. Acara berlangsung di Gedung Kesenian Palembang, Jumat (6/2/2026).

Hadir dalam kegiatan  tersebut diantaranya Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV RM Fauwaz Diradja, SH, MKn, budayawan Palembang Vebri Al Lintani, sejarawan Dr Kemas Ar Panji, SPd, MSi, serta sejumlah zuriat Kesultanan Palembang Darussalam di antaranya Raden Iskandar Sulaiman, Ir. Kgs Fauzi Firdaus, R.A. Farida, Masagus A., R.M. Rasyid Tohir, SH, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, seniman Palembang Ali Goik, youtuber Mang Dayat, serta tokoh masyarakat dan ulama.

Dzikir Ratib Saman dipimpin oleh Ustaz Mustopa.

Sultan Palembang Darussalam SMB IV RM Fauwaz Diradja menyampaikan bahwa dzikir Ratib Saman ini merupakan ikhtiar spiritual dan budaya untuk menjaga Benteng Kuto Besak agar tetap lestari sebagai kawasan cagar budaya.

“Pada awal tahun ini, kami berharap Benteng Kuto Besak dapat kembali dinikmati oleh masyarakat. Kawasan ini harus dijaga agar tetap lestari dan difungsikan sebagaimana mestinya sebagai benda cagar budaya,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kawasan BKB seharusnya menjadi ruang aktivitas kebudayaan dan pusat edukasi sejarah, khususnya bagi generasi muda Palembang.

“Kami berharap kawasan cagar budaya ini dikembalikan ke fungsi awalnya. Jika memang Rumah Sakit dr AK Gani hendak mengembangkan gedung tujuh lantai, sebaiknya tidak dilakukan di kawasan BKB. Kita harus bijaksana dalam menjaga warisan budaya,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Raden Genta Laksana menjelaskan bahwa Ratib Saman merupakan tradisi budaya Kesultanan Palembang Darussalam yang dahulu digunakan untuk membangkitkan semangat juang.

“Ini adalah tradisi yang sarat nilai perjuangan. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangkitkan kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan warisan budaya Kesultanan Palembang Darussalam sekaligus mengedukasi generasi muda tentang identitas budaya Palembang,semoga pemangku kebijakan di TNI dari tertinggi hingga di rendah  dan pihak baik  presiden dan Kemenhan di luluhkan hatinya dan untuk bkb di kembalikan ke masyarakat,” katanya.

Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi upaya spiritual untuk “mengetuk langit” agar Benteng Kuto Besak dapat kembali sepenuhnya menjadi milik masyarakat dan difungsikan sesuai nilai sejarah dan budayanya.

Budayawan Palembang Vebri Al Lintani menilai pembangunan gedung enam hingga tujuh lantai di kawasan BKB telah melanggar Undang-Undang Cagar Budaya.

“Hentikan pembangunan gedung untuk pengembangan RS AK Gani yang didirikan oleh Kesatuan Kesehatan Kodam II/Sriwijaya di zona inti kawasan cagar budaya BKB,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa Benteng Kuto Besak merupakan bangunan monumental peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam yang dibangun oleh Sultan Muhammad Bahauddin pada tahun 1780, saat kesultanan berada pada puncak kejayaannya.

“Jika dibandingkan dengan benteng-benteng di daerah lain di Nusantara, BKB adalah satu-satunya benteng yang dibangun oleh pribumi. Di daerah lain, kebanyakan benteng dibangun oleh kolonial,” jelasnya.

Ustaz Mustopa  menyampaikan bahwa dzikir Ratib Saman merupakan amalan para aulia yang dirangkaikan dengan Syarofal Anam sebagai bentuk perjuangan spiritual.

“Perjuangan yang dilandasi dzikir dan doa akan dipandang mulia oleh Allah. Jika kita melepaskan perjuangan dari Allah, maka kita akan menjadi hina,” katanya.

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar