Di Balik Jendela Rumah Limas

Berita Utama223 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id – Sahril sudah lebih dari seribu kali melintasi rumah Limas tua di Kampung Perigi itu. Setiap kali langkahnya melewati halaman rumah tersebut, matanya selalu terarah ke jendela-jendela kayu yang terbuka. Ada perasaan ganjil yang sulit ia jelaskan—seolah-olah dari balik jendela itu, sepasang mata sedang mengintip dan mengawasi setiap geraknya.

Pagi itu, saat ia berangkat bekerja ke Kantor Dinas Pendidikan Kota, perasaan itu kembali hadir. Dari balik beber tipis yang menutup kisi-kisi jendela, tampak kelebat bayangan yang cepat menghilang. Jantung Sahril berdegup lebih kencang. Ia berhenti, menoleh, lalu dengan ragu melambaikan tangan ke arah jendela.

Tak lama kemudian, beber itu tersibak perlahan. Sebuah wajah muncul.
Sahril terkesima.

Wajah itu putih bening, hidungnya mancung, alisnya tebal hitam seperti semut beriring, senyumnya manis dengan lesung pipit di kedua pipi. Gadis itu tersenyum sambil membalas lambaian tangannya. Sejak detik itu, jendela-jendela rumah Limas tak lagi sekadar jendela bagi Sahril.
Sejak kejadian pagi itu, rasa penasaran Sahril tak terbendung.

Ia mencari tahu siapa gadis di balik jendela tersebut. Dari seorang teman yang tinggal di Kampung Perigi, ia memperoleh sedikit informasi. Rumah Limas itu milik Ustadz Hasan, imam Masjid Nurul Huda, sosok yang dikenal sangat alim dan disegani. Gadis yang kerap terlihat di jendela itu adalah anak semata wayangnya, Siti Rahmah—seorang gadis pingitan yang kesehariannya memasak dan menenun songket.

Mengetahui hal itu, Sahril mulai rajin menunaikan sholat di Masjid Nurul Huda. Seusai sholat zuhur, ketika jamaah lain telah pulang, ia kerap mendekati Ustadz Hasan, bertanya tentang sholat sunnah dan perkara agama. Ustadz Hasan menjawab dengan sabar dan ramah.

Hari demi hari berlalu. Tanpa terasa, sudah tiga bulan Sahril istiqamah melakukan itu.
Suatu siang, Sahril kembali sholat zuhur di masjid. Namun, Ustadz Hasan tak tampak. Kabar beredar, beliau sedang sakit. Kesempatan itu tak disia-siakan Sahril. Selesai sholat, ia membeli buah-buahan di pasar lalu menuju rumah Limas di Kampung Perigi.

Di depan pintu, ia mengucap salam,
“Assalamu’alaikum.”
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Dan di hadapannya berdiri wajah yang selama ini hanya ia lihat dari balik jendela.
Sahril tercekat.

Subhanallah… batinnya bergetar. Kecantikan gadis itu seolah nyata sepenuhnya kini—lebih indah dari bayangan. Kulitnya bening, senyumnya meneduhkan, seakan mampu menghilangkan dahaga seorang musafir di padang pasir.
“,

mencari siapa?” tanya gadis itu lembut.
Sahril gelagapan“Mencari… Pak Ustadz Hasan,” jawabnya gugup, meski hatinya berkata lain.

Gadis itu tersenyum malu, membuat wajahnya kian ayu.
Sahril mengulurkan tangan. “Saya Sahril.”
Gadis itu membalas dengan ragu dan sopan. “Siti Rahmah.”

Pertemuan singkat itu menggetarkan hati keduanya. Sahril kemudian dipersilakan masuk untuk menjenguk Ustadz Hasan. Ia duduk di samping sang ustadz sambil menyerahkan pisang ambon besar yang baru dibelinya. Ustadz Hasan tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu memanggil putrinya untuk mengambilkan air minum.

Hari berikutnya, Sahril kembali berkunjung. Kali ini ia membawa martabak HAR, makanan kesukaan Ustadz Hasan. Sang ustadz tampak sangat senang dan terharu atas perhatian Sahril.
Pada hari ketiga, Ustadz Hasan sudah kembali mengimami sholat zuhur di masjid. Selesai sholat, Sahril mengantarnya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah Limas itu, Ustadz Hasan memandang Sahril dengan sorot mata penuh makna.
“Sahril,” katanya pelan, “maukah kamu saya jodohkan dengan anak saya, Rahmah?”
Hati Sahril berteriak lantang.
Mau…!

Dengan suara mantap ia menjawab, “Dengan senang hati, Pak Ustadz. Saya bersedia.”

Minggu sore selepas sholat Asar, keluarga besar Sahril datang melamar Siti Rahmah. Disepakatilah pernikahan pada akhir Agustus 2020.

Pernikahan berlangsung sederhana di rumah Ustadz Hasan. Banyak teman Sahril, baik yang masih lajang maupun yang telah berkeluarga, diam-diam menyimpan rasa iri. Siti Rahmah bukan hanya cantik jelita, tetapi juga shalihah.

Kini, jendela-jendela rumah Limas itu tak lagi menyimpan bayangan.
Tak ada lagi tatapan diam-diam.
Yang ada hanyalah sepasang hati yang telah bersatu dalam ridha-Nya.

 

Komentar