Cinta Bersemi Kembali Ke Haribaan Ilahi

Berita Utama93 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id – Hujan turun deras ketika motor trail tua melaju di Jalan Radial, Palembang. Faisal mengemudi dengan tenang, sementara Fauzia membonceng di belakang, memeluk pinggangnya erat. Di tengah derasnya hujan, pelukan itu terasa seperti janji yang tak ingin dilepaskan lagi, seolah waktu 25 tahun silam kembali berputar.

Lampu merah di simpang empat DPRD memaksa mereka berhenti. Butiran air membasahi jaket kulit hitam Faisal yang warnanya telah pudar, sementara tubuh Fauzia menggigil kedinginan. Namun, senyum di wajahnya mengembang bahagia. Ia teringat masa muda mereka, ketika sepulang dari Syailendra Course English, ia selalu dibonceng Faisal dengan motor trail yang sama.

Begitu lampu hijau menyala, Faisal memutar gas. Motor melaju menembus hujan dan angin, melewati Kapten A. Rivai, Simpang Charitas, hingga Sudirman. Saat memasuki Jalan Kolonel Atmo, Faisal tiba-tiba memperlambat laju kendaraannya. Ia menepi dan berhenti di depan sebuah gedung tua bertuliskan Syailendra Institut.
Hujan masih mengguyur deras ketika Faisal turun dari motor. Dengan suara lantang, ia berteriak:

“Mem, Fauzia… di gedung inilah kita pertama kali berjumpa. Dua puluh lima tahun lalu. Hari ini aku berjanji, aku akan mencintaimu sehidup semati. Aku akan mempersuntingmu, dan membawamu menuju surga.”

Fauzia menangis dalam dekapan lelaki yang telah lama mengisi ruang hatinya itu. Air matanya bercampur hujan.

“Faisal… kau adalah imamku. Aku bersedia mendampingimu sampai maut menjemput. Aku bahagia, Arjunaku…”

Kendaraan yang melintas memperlambat laju. Para pengendara menoleh dan tersenyum, menyaksikan dua insan paruh baya yang sedang mengikat janji suci di bawah hujan.

Dengan tangan bergetar, Faisal merogoh saku celana jins tuanya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, membukanya perlahan. Sebuah cincin emas putih bermata batu rubi merah kecil berkilau di dalamnya. Ia sematkan cincin itu di jari manis Fauzia.
Tangis bahagia Fauzia pecah. “Terima kasih, sayang. Terima kasih, lelaki pujaan hatiku.”
Hujan mulai mereda, tinggal gerimis tipis yang mengiringi langkah mereka pergi. Motor trail kembali melaju, melewati Sudirman, bioskop-bioskop lama, hingga berhenti di Rumah Makan Har. Dalam keadaan basah kuyup, mereka menikmati seporsi martabak kari dan teh manis hangat.

Sambil saling menggenggam tangan, mereka berbisik dalam hati: Biarlah maut saja yang memisahkan kita.
Usai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Fauzia di Komplek Pertamina Plaju. Gerimis masih setia turun ketika mereka melintasi Masjid Agung dan Air Mancur. Di atas Jembatan Ampera, Faisal menyalip sebuah mobil. Namun tiba-tiba, dari arah berlawanan, muncul angkot kuning jurusan Kertapati.
“Duaaarrr…!”

Benturan keras membuat tubuh mereka terpental. Kepala Faisal pecah, darah mengalir deras.

“Fauziaaa…” teriaknya lirih.
Fauzia pun bersimbah darah, kakinya patah, kepalanya terluka. Dengan sisa tenaga, mereka saling meraih dan berpelukan.

“Faisal… kekasihku…”

Di tengah hujan gerimis dan suara sirene yang menjauh, dua insan itu mengembuskan napas terakhir dalam dekapan cinta.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Janji sehidup semati pun tertunaikan, kembali ke haribaan Ilahi.

Penulis : Kms. Sofyan

Komentar