Berjumpa Mantan Di Sungai Sekanak

Berita Utama225 Dilihat
banner1080x1080

Palembang, Sumselpost.co.id – Sore itu, Sungai Sekanak mengalir tenang. Pantulan cahaya senja berpendar di permukaannya, menciptakan kilau keemasan yang menenangkan. Di tepi sungai, seorang lelaki hampir paruh baya melangkah gontai seorang diri. Celana jean dan jaket kulit hitam yang telah memudar membungkus tubuhnya. Warna jaket itu kini tak lagi legam, melainkan kecokelatan, dimakan usia—seperti dirinya. Di dada kiri jaket tersebut terpampang gambar Mick Jagger, menjadi saksi bisu perjalanan panjang hidupnya.

Namanya Faisal, usia empat puluh tujuh tahun. Meski waktu telah mengukir garis-garis di wajahnya, aura ketampanan dan keteduhan masih terpancar jelas. Namun, kesendirian tampak begitu akrab dengannya.

Ia mengisap rokok elektriknya dalam-dalam, membiarkan uap tipis mengepul dan lenyap di udara sore. Tiba-tiba, sebuah suara lembut memanggil, “Faisal?”

Refleks, ia menoleh.
Seorang perempuan setengah baya berdiri beberapa langkah darinya. Tatapan mereka bertaut lama, seakan waktu berhenti berputar. Dalam sekejap, kenangan dua puluh lima tahun silam berloncatan di benak Faisal. Di Syailendra Course English, di kelas elementary, ada seorang pengajar bernama Mem Fauziah—cantik, berkulit cerah, berhidung mancung, dan memiliki lesung pipi yang selalu muncul setiap kali tersenyum.

“Ya,” jawab Faisal lirih, nyaris tak percaya.
Senyum wanita itu tak berubah—bahkan terasa semakin menawan. Senyum yang sama, yang selama ini tersimpan rapi di relung hatinya. Senyum yang membuatnya bertahan dalam kesendirian.
Mereka terdiam, saling menatap, larut dalam kenangan.

Malam hujan itu kembali hadir di benak Faisal. Seusai kelas percakapan, hujan turun begitu deras. Satu per satu siswa pulang, hingga tersisa mereka berdua. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tanpa ragu, Faisal menawarkan diri mengantarkan Mem Fauziah pulang. Jaket kulit bergambar Mick Jagger itu ia kenakan di tubuh Fauziah untuk melindunginya dari dingin. Keesokan harinya, jaket itu kembali dalam keadaan bersih, wangi parfum yang hingga kini tak pernah ia lupakan.

“Hai, apa kabar, Mem?” sapa Faisal akhirnya.

Fauziah tersenyum, pipinya merona. “Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Kamu?”

“Aku masih sendiri,” jawab Faisal lirih. “Menunggu burung merpati yang terbang terlalu tinggi.”

Fauziah terdiam sesaat. “Kini burung merpati itu kembali. Tapi tak lagi sama.”

“Apa maksudmu?”

Tatapannya beralih pada sepasang ikan mas koki yang berenang berkejaran di sungai. “Usia kita hampir setengah abad, Sal. Aku pernah menikah dengan lelaki yang bukan pilihanku. Lima bulan lalu, kami berpisah.”
Jantung Faisal berdetak lebih cepat. Dalam diam, ia merasakan benang yang lama terputus perlahan terajut kembali.
Ia menarik napas panjang. Masa depan yang dulu terasa suram kini disinari secercah harapan. Dalam hatinya tumbuh keyakinan: ia ingin meminang Fauziah, menjadikannya pendamping hidup hingga akhir waktu.

Rupanya, Fauziah pun menyimpan harapan yang sama.

Senja kian meredup ketika mereka melaju berboncengan dengan motor trail tua. Faisal kembali memakaikan jaket kulit bergambar Mick Jagger itu ke tubuh Fauziah. Angin sore menerpa wajah mereka. Fauziah memeluk erat pinggang Faisal, seolah tak ingin melepaskan.

Motor melaju kencang, menembus senja, membawa dua hati yang akhirnya kembali bersua—tak ingin lagi terpisah untuk selamanya.

Oleh :Tangga Buntung, 5 Februari 2022
(Kms. Sofyan Abdullah)

Komentar