BEM FMIPA UNSRI Soroti Peran Pemuda Dalam Ketahanan Pangan Nasional

Nasional, Sumsel27 Dilihat
banner1080x1080

SumselPost.co.id. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sriwijaya (UNSRI) menyelenggarakan seminar ketahanan pangan bertema “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Ketahanan Pangan Nasional” di Kampus UNSRI Indralaya, Ogan Ilir.

Kegiatan ini diikuti oleh 150 mahasiswa dan menghadirkan tiga narasumber dari unsur akademisi, praktisi, dan perwakilan pemuda: Dosen Fakultas Pertanian UNSRI Dr. Rizky Tirta Adhiguna, S.T.P.,
M.Si.; praktisi pertanian Ogan Ilir, Muhammad; serta Ketua Forum Suara Mahasiswa Sumatera Selatan (Sumsel), M. Yoga Prasetyo, S.H.

Dalam pemaparannya, Dr. Rizky menjelaskan bahwa berdasarkan Global Food Security Index (GFSI) ASEAN 2021, kondisi ketahanan pangan Indonesia masih memerlukan perhatian serius.
“Sebanyak 27 provinsi (71,05%) berada pada kategori waspada dan satu provinsi masuk kategori rentan, yaitu DI Yogyakarta (2,63%). Sementara itu, sepuluh provinsi (26,32%) tergolong aman, termasuk Sumsel,” ujarnya.

Ia juga menyoroti temuan GFSI ASEAN 2021 mengenai tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bantuan pangan yang belum diimbangi oleh strategi perencanaan yang memadai. “Indonesia memperoleh skor 100% pada indikator ketergantungan bantuan pangan kronis, namun skor strategi masih 0%,” jelasnya. Kondisi ini, lanjutnya, memerlukan peran aktif generasi muda. “Pemuda harus terus mendorong lahirnya diskusi dan aksi strategis terkait isu ketahanan
pangan,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, praktisi pertanian, hingga LSM sangat diperlukan hingga ke tingkat akar rumput.”
Rizky menambahkan bahwa kunci kolaborasi tersebut terletak pada inovasi dan pemanfaatan teknologi. “Keempat unsur tersebut dapat bekerja sama melakukan inovasi riset, mengembangkan potensi pangan lokal, mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk mewujudkan pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan, serta mendorong praktik pertanian modern yang tetap memperhatikan konservasi lahan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, praktisi pertanian Ogan Ilir, Muhammad, mempertanyakan komitmen pemerintah dalam penyaluran pupuk dan bibit sebagai fondasi ketahanan pangan.
Ia menilai bahwa masih banyak petani yang mengalami kesulitan dalam mengakses bantuan.

“Banyak bantuan yang tidak sampai kepada petani di Ogan Ilir. Mereka kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi sejak dua tahun terakhir,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengapresiasi inisiatif FMIPA UNSRI dalam menyelenggarakan acara ini. “Ini
kesempatan penting bagi kami untuk bersuara. Mahasiswa diharapkan dapat mendukung petani karena kamilah penyedia pangan,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Forum Suara Mahasiswa Sumsel, M. Yoga Prasetyo, S.H., menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah memperkuat fokus pada ketahanan pangan melalui berbagai kebijakan. “Pemerintah melalui Pupuk Indonesia telah menetapkan alokasi 9,5
juta ton secara nasional, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Pemerintah juga menurunkan harga pupuk subsidi hingga 20% dan memangkas 145 regulasi lama melalui Perpres No. 6 Tahun 2025. Saat ini proses mendapatkan pupuk semakin mudah dan cepat; hanya dengan
KTP, petani dapat memperoleh pupuk subsidi melalui penyuluh kecamatan. Petani juga dapat masuk ke dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK),” jelasnya.

Menurut Yoga, permasalahan yang dihadapi petani tidak sepenuhnya berasal dari pemerintah. “Banyak hambatan justru muncul akibat oknum yang menyalahgunakan kebijakan yang sejatinya pro-petani,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam
mengawal implementasi kebijakan serta menyuarakan persoalan yang dialami petani. “Pemuda sebagai agen perubahan harus mampu melakukan advokasi, termasuk terhadap persoalan
yang dialami Pak Muhammad,” ujarnya.

Ia berharap mahasiswa dapat memberikan dukungan nyata dengan mengawal, memantau, dan membantu menghapus praktik-praktik tidak sehat dalam penyaluran bantuan pertanian
sebagai kontribusi konkret terhadap ketahanan pangan.

Seminar ini ditutup dengan deklarasi pemuda untuk mendukung ketahanan pangan nasional,
yang menjadi salah satu fokus strategis dalam kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Postingan Terkait

Postingan Terkait

Komentar