oleh

Agus Marianto Rindu Berhaji

PALEMBANG, SumselPost.co.id – Sudah tahun ke-2 ini masyarakat islam tak dapat mengerjakan ibadah haji ke tanah suci. Mungkin ini ada baiknya, untuk kembali merenungi apa sebenarnya makna berhaji itu?

Haji dibicarakan sebagai ‘gerakan pergi’ dan ‘gerakan kembali’. Itu sebabnya yang namanya “gerakan” selalu “menuju” sesuatu bukan “di dalam” sesuatu. Sebagian juga menganggap haji adalah berziarah dan sebuah perjalanan mencapai tujuan. Bahkan haji itu sendiri adalah tujuan mutlak dan sebuah gerakan eksternal menuju pada tujuan.

Begitu juga perjalanan-kembali kepada Allah, terbagi menjadi tiga tahap (Arafat, Masy’ar, dan Mina) yang kesemuanya mesti dilalui. Ketiga stase/tahap ini bukanlah tempat yang dikunjungi, tapi dilalui. Maka penting bagi kita untuk menyadari penekanan terhadap lama waktu berhenti di setiap tahap tersebut. Serta keputusan untuk menempuh ketiganya.

Sesungguhnya Tuhan sendiri telah memberikan nama-nama mulia kepada ketiganya:
Arafat yang berarti “pengetahuan” dan “sains”
Masy’ar berarti “kesadaran” dan “pengertian”
Mina yang berarti “cinta” dan ” keyakinan”

Perjalanan itu dimulai dari Mekkah pergilah ke Arafat (inna lillah) ” sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah”. Dan, setelah itu, dari Arafat kembalilah ke Ka’bah (wa inna illaihi rojiun) ” dan kepada-Nya kita akan kembali”.

Arafat adalah perlambang awal penciptaan manusia. Dimana bahannya dari “lumpur-hina” dan “ruh Allah”. Itu kenapa saat bergerak dari Mekkah menuju Arafat di waktu siang, untuk wukuf (berhenti sejenak) di bawah terik matahari hingga arafat hilang ditelan gelap.

Disana manusia untuk keluar dari bayangan dan kemah dirinya. Membakar semua kebodohan, keculasan, dan penindasan nafsu pada diri. Untuk matang dibakar oleh cahaya kemerdekaan serta bersatu dalam lautan manusia yang memancarkan putih bersih.

Baca Juga  Peserta FGD Pulau Kemaro Kecewa, Tak Di Hadiri Pejabat Pemkot Palembang

Inilah arafat itu, dunia tempat kita hidup. Memiliki batasan waktu hingga tenggelamnya matahari (gelap-kematian). Disinilah “pengetahuan” itu diperoleh untuk kemudian melakukan “pengenalan diri” dan saat bergerak ke Masy’ar kita telah masuk pada tahap “kesadaran” kemudian menuju Mina (cinta) Allah swt.

Meskipun saat ini kita tidak bergerak jasad ke tanah suci untuk berhaji. Namun dalam idealisme teologis dan metafisis kita harus berhaji dengan sebenarnya. Bersatu dan menyatu bersama manusia-alam di sekitar kita. Membakar sekat-sekat sosial, menjadi manusia yang “Ibrahimi” pada sesama. Serta “meng-Ismail-kan” setiap diri, harta dan tenaga untuk tujuan mulia berbangsa dan bernegara.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *