oleh

Jelang Konferwil, MWC Menuntut Hak Menentukan Ketua NU DKI Jakarta

-Nasional-29 views

JAKARTA, sumselpost.co.id – Menjelang Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama ((PWNU) DKI Jakarta, pada awal April 2021 mendatang, suara dari bawah khususnya Majelis Wakil Cabang (MWC) NU untuk memperbaiki dan memperhatikan keterlibatan MWC NU itu terus berkembang. Dimana suara MWC NU diharapkan menjadi pertimbangan dan prioritas untuk menentukan keterpilihan Ketua NU (PWNU) DKI Jakarta, dan paradigma ini diharapkan diikuti oleh PCNU seluruh Jakarta.

Demikian aspirasi yang berkembang pada acara silaturahmi yang difasilitasi PC NU Jakarta Pusat, dan berjalan dalam suasana khas gaya NU, penuh humor dan santai, namun serius. Silaturahmi secara khusus memiliki agenda perkenalan, penyampaian visi misi, program, dan dialog interaktif dengan Balon Ketua NU DKI Jakarta, H. Tatang Hidayat dengan para MWC se Jakarta Pusat, pada Sabtu (27/2) malam.

Hadir dalam silaturahmi tersebut antara lain Wakil Ketua PC NU Jakarta Pusat Irfan Mufid, Sekretaris Fuad Cholil, mantan Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta KH. Ma’mum Alayubi, dan seluruh pengurus MWC NU Jakarta Pusat.

Fuad Cholil menegaskan jika PCNU Kota Jakarta Pusat menghendaki paradigma atau sistem baru dengan melibatkan suara dari bawah; yaitu MWC. Yaitu, dengan mengakomodir suara atau aspirasi MWC untuk menentukan dan atau keterpilihan Calon Ketua NU dalam Konferwil NU DKI Jakarta. “Paradigma baru ini diharapkan diikuti oleh MWC dan PCNU di seluruh Jakarta, karena langsung melibatkan aspirasi umat di bawah, yang selama ini diabaikan,” ujarnya.

Menurut Fuad, paradigma baru ini sebagai sistem baru untuk memperhatikan aspirasi arus bawah dimana NU sejak lahir hingga saat ini selalu dekat dan menyatu dengan urusan umat, yang paling bawah. Seperti di tingkat ranting, kelurahan dan sebagainya.
“Di bawah itulah program keummatan, jam’iyyah NU itu ada. Apalagi saat ini masalah umat makin kompleks, sehingga dibutuhkan figur pemimpin yang mau terjun ke bawah, memperhatikan sekaligus menyelesaikan berbagai masalah umat di bawah. “Maka wajar jika Ketua Umum PBNU Prof DR KH. Said Aqil Siradj meminta agar NU tidak dipimpin oleh birokrat atau politisi,” kata Fuad.

Baca Juga  BAP DPD RI Fasilitasi Konflik Tanah Surat Ijo Surabaya

Hal yang sama disampaikan KH. Ma’mun Alayyubi, bahwa NU itu selalu dekat dan menyatu dengan urusan umat di bawah, maka program-program NU harus menyentuh dan melibatkan langsung umat di bawah, baik ranting, majelis cabang, dan seterusnya.

Menurut Ketua Umum DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) DKI Jakarta itu, jika NU Jakarta dipimpin oleh birokrat maka birokrat tersebut memiliki tugas yang berat dan berkewajiban mengayomi seluruh warga dan umat yang ada di Jakarta, sehingga seperti pengalaman selama ini, program PWNU itu tidak jalan. Demikian pula jika dipimpin oleh politisi. “Warga NU Jakarta ini ada dimana-mana, tidak saja di satu partai. Tapi, di semua partai ada. Jadi, jika dipimpin politisi, maka warga NU terancam terbelah, programnya tidak jalan, dan itu tak sejalan dengan Khittah NU 1926 dimana NU harus Kembali mengabdi kepada umat,” ungkap mantan Ketua GP Ansor DKI itu.

Karena itu, figur dan sosok yang pas untuk memimpin PWNU DKI Jakarta adalah bukan birokrat dan bukan pula politisi, yaitu H. Tatang Hidayat, yang sudah terbukti dedikasi, loyalitas, dan pengabdiannya kepada NU selama puluhan tahun. “KH. Said Aqil Siradj pun dalam suatu pertemuan di Jakarta, mengatakan bahwa H. Tatang adalah figur yang pas untuk Ketua NU DKI Jakarta. Selain sebagai mantan Kasatkornas Banser, beliau juga mengawal Gus Dur hingga wafat, dan sangat menghargai kader-kader NU, ditambah lagi senang blusukan ke bawah, ke Banser-Banser di bawah dan kader NU lainnya yang sangat beliau hargai dan hormati,” tambahnya.

Dengan demikian, apa yang dilakukan PC NU Jakarta Pusat dalam memfasilitasi silaturahmi Balon Ketua NU DKI ini patut diikuti oleh semua PC NU se-DKI Jakarta, agar arus bawah ikut terlibat menilai dan menentukan pimpinan mereka pada priode mendatang. “Paradigma baru ini semata agar roda organisasi dijalankan secara bersama, sinergis, satu hati, dinamis dan profesional. Dan, yang bisa melakukan itu adalah H. Tatang Hidayat,” pungkas KH. Ma’mun. (AM)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *