oleh

SMAN 2 Rambang Dangku Muara Enim Diduga Jual Buku LKS ke Siswa

MUARAENIM,SumselPost.co.id – Dugaan penjualan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) sebesar Rp 180 ribu persiswa oleh SMAN 2 Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim.

yang  dipertanyakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tameng Penggiat Anti Korupsi (Tamperak) DPD Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan.

Terkuak nya peristiwa itu karna beberapa saat lalu adanya insidenyang menimpa ketua LSM Tamperak Risma Sitanggang dan anggotanya kehilangan kendaraan roda dua merk honda beat dilingkungan sekolah itu.

Atas peristiwa kehilangan motor miliknya itu kemudian korban melaporkan peristiwa ke Polsek Rambang Dangku usai mengadakan konfirmasi kepihak SMAN 2 Rambang Dangku.

Kepada media ini Ketua DPD LSM Tamperak Risma Sitanggang didampingi bendahara Muler Franki, mengutarakan bahwa kedatangan kami kepihak SMAN 2 saat itu karena menyusul adanya laporan wali siswa yang keberatan membeli buku LKS dan sesuai peraturan Kemendikbud

meski menteri pendidikan telah melarang pengunaan Lembar Kerja Siswa ( LKS) sebagai media pembelajaran di sekolah namun guru Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Rambang Dangku Muar Enim masih mewajibkan siswanya untuk membeli buku LKS.

Larangan penjualan buku paket/LKS di lingkungan sekolah itu didasarkan pada UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Dengan dua payung aturan itu, Menteri Pendidikan Nasional (pada saat itu) telah menerbitkan Peraturan Mendiknas No 2/2008 tentang Buku.

Pasal 11 Peraturan Mendiknas No 2/2008 melarang sekolah bertindak menjadi distributor atau pengecer buku kepada peserta didik.

Ditegaskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, praktik jual beli lembar kerja siswa (LKS) yang dilakukan pihak sekolah dan biasanya bekerja sama dengan penerbit atau pihak ketiga lainnya merupakan pungutan liar.

Jual beli LKS telah melanggar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 75/2016 tentang Komite Sekolah Pasal 12 ayat 1.

Baca Juga  Kapolsek Lawang Kidung Peduli Warga Alami Gizi Buruk

Dalam permen tersebut ditegaskan Komite Sekolah baik perseorangan maupun kolektif dilarang menjual buku pelajaran, bahan ajar, perlengkapan bahan ajar, pakaian seragam atau bahan pakaian seragam di sekolah.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad pun pernah menegaskan, praktik jual beli LKS masuk dalam kategori bahan ajar di sekolah

dan tidak bisa dibenarkan sehingga harus dihentikan.LKS sebenarnya boleh digunakan asal dibuat oleh guru dan tidak diperjualbelikan.

Dalam Kurikulum 2013, LKS sudah diintegrasikan dalam buku pelajaran yang diberikan pemerintah, dan LKS yang diperjualbelikan terpisah dengan buku melanggar Permendikbud tersebut,” beber Ketua Dpd LSM Tamperak Risma Sitanggang dan Muler Franki pada Selasa (09/02/2021).

Sementara itu menanggapi hal tersebut,Kepsek SMAN 2 Rambang Dangku Riswan, mengungkapkan bahwa itu perlu penjelasan dari pihak sekolah

“Ya pak dak bisa saya jawab secara gamblang dan diprsilahkan ke sekolah,dan akan kami terima dengan tangan terbuka, ” ungkap Kepsek SMAN 2 Rambang Dangku Riswan, melalui What Shap (08/02/2021). Dikatakan Riswan,”

“terkait hilangnya motor ketua LSM Tamperak pada saat konfirmasi ke SMAN 2 tersebut, tentunya kami sangat prihatin dan berharap pihak Kepolisian cepat mengungkap kasus dugaan pencurian sepeda motor milik ketua LSM Tamperak dilingkungan sekolah kami.

“Ya kami prihatin hilangnya motor dari tamu kami saat itu dan saat itu saya tidak masuk mengajar di SMAN 2 Rambang Dangku, ” kata Kepsek Riswan melalui What Shap  nya itu.

 

(JN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *