oleh

Penjualan Telor Puyuhnya Mengeluh, Sepi Pembeli

PRABUMULIH,SumselPost.co.id – Dampak dari wabah Virus Corona Disease (Covid-19) hampir seluruh usaha pedagang di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan kemunduran.

Seperti juga apa yang dialami Edi Rusnadi, peternak puyuh di Parumulih ini  obsetnya jauh turun

Sejak setahun belakangan ini omset usaha penjualan telur puyuh miliknya turun drastis. Dimana, biasanya penjualan telur puyuh menghabiskan 5 Kg telur puyuh atau Rp 165 ribu perharinya.

“Tetapi saat ini paling bisa menghabiskan sebanyak 1 Kg telur saja,” ujar Edi Rusnadi, ketika dibincangi media ini, Sabtu (6/2/2021) di rumahnya di sela-sela kesibukan mengurusi telur puyuh kesayangan miliknya itu.

Meskipun demikian, bapak dari M Fahri Husaini, tetap optimis menjalani usahanya industri rumahan demi menghidupi keluarga tercintanya.

“Nah, kalau sekarang mau bagaimana lagi mas. Ya, kalau kurang sudah tentu kurang dari hasil penjualan telur puyuh saya dibandingkan dengan pengeluaran sehari-hari,” ungkap pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat 1984 silam dengan rawut muka sedih itu.

Ia menambahkan, tentunya dengan turunnya omset penjualan usahanya tersebut dan sepinya para pembeli. Sehingga kebutuhan rumah tangganya tak tercukupi, terutama terkait pembelian token listrik untuk menetaskan anak-anak telur puyuh itu.

“Ya paling token 20 ribu tersebut cuma cukup tiga hari saja, dan belum lagi pakan puyuh cukup mahal Rp 400 ribu sekarungnya,” keluh lelaki ini yang juga sepi borongan bangunan akibat Covid-19 itu, yang berdomisili di Blok C 10 CPI.

Oleh karena itu, lanjut suami dari Rosidah (36), mengharapkan bantuan dana dari pemerintah atau pun swasta guna pembelian makanan puyuh usaha idustri rumahan tersebut.

“Saya mengharapkan uluran tangan dana atau pun pakan ratusan puyuh dari masyarakat. Karena bingung mau usaha apa lagi, dan sedangkan borongan bangunan sedang-sedang sepinya,” aku pria berkulit sawo matang ini.

Baca Juga  Tiga Jamaah Tablig Ditabrak Kereta Api di Prabumulih

Tak jauh berbeda diungkapkan Rosidah, istri kesayangannya yang selalu setia mendampingi usaha digeluti suaminya, meskipun omset usahanya saat ini turun drastis.

“Kami cuma biso berdoa dan berusaha bae pak lantak sepinyo penjualan kami. Konsumen beli jarang, sementaro poyoh ini nak makan terus-terusan alias dak boleh abis pakannyo,” katanya perempuan berambut panjang dikonfirmasi bersamaan tersebut.

“Semoga bae pemerintah kito dapat memberikan bantuan dana/makanan puyuh demi meneruskan usaha kecil-kecilan keluargo kami demi menyambung idup ini,” kata nya

(JN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *