Idham Zulfikri: Saling Klaim Hutan Kawasan eks PT Pakerin Berpotensi Konflik

Berita Utama1330 Dilihat
Post ADS

MUBA, SumselPost.co.id – Akbat saling klaim lahan ini akan berpotensi konflik atau gesekan antara kelompok masyarakat petani dengan oknum pengusaha terjadi dilahan perkebunan eks PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan.

Padahal lahan tersebut masuk hutan produksi yang semestinya dilindungi sebagai hutan kawasan dan hanya bisa digarap dengan sejumlah aturan dan persyaratan yang ketat. kata, koordinator LSM PP-SUMSEL, Idham Zulfikri.

Oleh karnanya Idham Zulfikri minta kepada Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel untuk segera bertindak, guna mengatasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Masyarakat yang menamakan diri sebagai warga trans Pakerin di Kecamatan Batang Hari Leko sempat menghadang sebuah alat berat jenis buldozer yang diduga milik seorang pengusaha bernama A Kien.

Baca Juga  Lubang Dalam Dijalan Sekayu- Pendopo Mengakibatkan Kerusakan Kendaraan

Alat berat tersebut sempat menggusur sekitar 1 hektar lahan yang diklaim masyarakat milik mereka,” Ujar Idham Zulfikri kepada media, Jumat (24/12/2020).

Beruntung, lanjut Zulfikri dengan nada khawatir, ketegangan tidak berlanjut setelah alat berat tersebut mundur dan tidak melanjutkan aksi penggusuran.

Untuk itu pihaknya meminta agar Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel segera mengambil tindakan dan turun ke lokasi.

“Kalau sebatas KPH Meranti, sepertinya hanya dianggap angin lalu saja. Ini menyangkut hutan kawasan yang hanya tinggal segelintir,

dan kami menganggap tindakan menggusur hutan kawasan dengan alat berat sudah tidak bisa dimaafkan, pelanggaran berat,”Ungkapnya.

Zulfikri juga mengaku bahwa dirinya sudah berulangkali menyampaikan laporan terkait perambahan hutan kawasan kepada UPTD KPH Meranti,

Baca Juga  Pelaku yang Ditangkap Kuras ATM milik Korban Ternyata Berprofesi Sebagai Guru PPPK

baik semasa dipimpin Wan Kamil maupun Edy yang mengisi posisi pasca Wan Kamil memasuki masa pensiun.

“Tapi hingga saat ini belum ada tindakan atau upaya penyelamatan yang dilakukannya untuk menyelamatkan hutan kawasan.” Sesalnya.

Dijelaskannya, bahwa eksodus masyarakat yang menempati lahan hutan kawasan tersebut semakin membludak. Dan disisilain oknum pengusaha juga semakin memperluas kawasan perkebunan karet didalam hutan kawasan tersebut.

Diduga hutan produksi yang menjadi sengketa (Poto Rapik)

“Lebih seribu kepala keluarga yang bermukim dan bertani dilahan yang mereka namakan trans Pakerin tersebut.

Kebanyakan datang dari luar daerah seperti Lampung, sementara perkebunan karet yang mereka sebut sebagai PT Kien diperkirakan juga sudah lebih seribu hektar luasnya dilahan eks PT Pakerin tersebut,” terang Zulfikri.

Baca Juga  Ribuan Butir Ineks Hello Kitty Senilai Milyaran Disita Polda Sumsel

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel Ir. Pandji Tjahjanto ketika dikonfirmasi terkait permasalahan ini mengaku kaget. Ia bertanya apakah permasalahan tersebut sudah diketahui oleh KPH Meranti sebagai unit Dinas Kehutanan Provinsi Sumsel di Kabupaten Musi Banyuasin.

“Apakah hal ini sudah dilaporkan ke UPTD KPH Meranti? Ok secepatnya akan saya tanggapi,” kata Ir Pandji melalui akun WhatsAppnya.

 

(Rafik elyas)

Post ADS

Komentar